Bab 11 Sebenarnya Apa Itu Kesadaran?
Kita sering mendengar kata kesadaran. Tetapi pernahkah kita berhenti sebentar dan bertanya: sebenarnya, apa yang kita maksud dengan kesadaran? Apakah kesadaran hanya berarti tahu? Kita tahu ketika sedang marah. Kita tahu ketika sedang kecewa. Kita tahu ketika sedang iri, takut, gelisah, bahkan ketika pikiran kita sedang kacau. Tetapi kalau kita sudah tahu sedang marah, mengapa kadang kita masih dikuasai oleh kemarahan? Di sinilah mungkin ada perbedaan mendasar antara mengetahui dan menyadari. Mengetahui bahwa kita sedang marah adalah satu hal. Tetapi menyadari, "Ada kemarahan yang sedang muncul dalam diriku," adalah sesuatu yang berbeda. Ada jarak kecil di sana. Kita tidak langsung menjadi kemarahan itu. Kita mulai melihatnya, bukan terhisap ke dalamnya.
Begitu juga dengan pikiran. Kita sering berkata, "pikiranku sedang kacau." Kalau pikiran bisa kita lihat sedang kacau, lalu siapa yang melihat kekacauan itu? Pikiran datang dan pergi. Perasaan berubah. Keinginan berubah. Tubuh pun terus berubah. Tetapi ada sesuatu yang menyadari semua perubahan itu — sesuatu yang tidak berubah, yang tetap hadir menyaksikan setiap gelombang pikiran dan perasaan yang berlalu bagaikan awan di langit. Mungkin karena itu, berbicara tentang kesadaran sebenarnya bukan hanya berbicara tentang menjadi lebih tahu. Tetapi tentang mengenali siapa yang sedang menyadari semua pengalaman itu — saksi yang abadi, yang tidak pernah menjadi isi pengalaman itu sendiri.
Dalam filsafat Hindu, pertanyaan ini menjadi sangat dalam, menjadi inti dari seluruh pencarian spiritual sejak ribuan tahun silam. Bukan lagi sekadar: "Apa yang saya pikirkan?" Tetapi: "Siapa yang menyadari pikiran itu?" Bukan: "Mengapa saya sedang marah?" Tetapi: "Siapa yang menyadari bahwa kemarahan sedang muncul?" Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar renungan intelektual, melainkan sebuah jalan untuk kembali kepada hakikat diri yang sejati.
Dalam Kaṭha Upaniṣad II.3.10–11, dikatakan bahwa ada dua hal yang berbeda: yang disebut cit — kesadaran murni, saksi yang abadi — dan yang disebut citta — pikiran, perasaan, dan segala isinya yang terus berubah. Seperti mata yang melihat segala benda tetapi mata itu sendiri bukanlah benda yang dilihat, demikian pula kesadaran itu menyaksikan segala pikiran dan perasaan tetapi tidak pernah menjadi salah satu darinya. Demikian pula dalam Bhagavad Gītā XIII.22, disebutkan bahwa ada Puruṣa — yang menyaksikan dan mengizinkan segala sesuatu terjadi, yang bukan badan, bukan pikiran, melainkan kesadaran murni yang abadi. Ia adalah yang melihat, tetapi tidak pernah dilihat; yang mendengar, tetapi tidak pernah didengar; yang menyadari, tetapi tidak pernah menjadi objek kesadaran apa pun.
Mungkin kesadaran tidak perlu kita cari jauh-jauh. Ia sudah hadir ketika kita membaca tulisan ini, ketika kita menarik napas, ketika hati berdetak. Hanya saja, sering kali perhatian kita begitu sibuk dengan apa yang disadari — dengan isi pikiran, dengan rasa sakit, dengan keinginan, dengan kenangan — sampai lupa memperhatikan yang menyadari. Kita begitu terpesona oleh gambar-gambar di layar sampai lupa bahwa ada cahaya yang membuat gambar itu tampak. Cahaya itulah kesadaran. Dan mungkin perjalanan ke dalam diri bukan tentang menambah sesuatu yang baru, bukan tentang memperoleh kekuatan baru atau pengetahuan baru. Tetapi perlahan-lahan melihat apa yang selama ini sudah ada, yang selalu ada, bahkan sebelum kita sadar akan keberadaannya.
Kesadaran bukan sekadar tahu bahwa kita hidup. Kesadaran adalah menyadari bahwa kita sedang mengalami kehidupan — bahwa kita bukanlah pengalaman itu sendiri, melainkan ruang di mana pengalaman itu terjadi. Dan dari sana, sebuah pertanyaan sederhana bisa menjadi sangat dalam, menjadi kunci yang membuka pintu seluruh rahasia keberadaan: "Siapa sebenarnya aku, di balik semua yang aku pikirkan, rasakan, dan alami?" Bukan aku yang marah, bukan aku yang sedih, bukan aku yang berpikir — melainkan Aku yang menyadari kemarahan, kesedihan, dan pikiran itu. Itulah kesadaran sejati, itulah pengenalan akan diri sendiri, itulah jalan menuju kebebasan yang diajarkan oleh para leluhur sejak zaman dahulu.