Bab 18 Mengapa Tuhan Yang Tak Terpikirkan Punya Gambar?
Katanya Tuhan dalam Hindu itu tidak terpikirkan, tidak terbayangkan, tak terbatas wujud-Nya. Lalu kenapa di mana-mana ada gambar-Nya, ada arca-Nya, ada rupa-Nya? Bukankah itu berarti kita membatasi Yang Tak Terbatas?
Pertanyaan ini sangat wajar, dan jawabannya terletak pada satu perbedaan yang sering luput dari perhatian: beda antara Tuhan itu sendiri, dan sarana untuk mendekati Tuhan.
Dalam ajaran Hindu, Tuhan yang hakikatnya disebut Brahman bersifat Nirguṇa — tanpa sifat, tanpa wujud, tak terjangkau pikiran, tak terlukiskan oleh gambaran apa pun. Seperti dikatakan dalam Taittirīya Upaniṣad: "Ia bukanlah sesuatu yang dapat dilihat oleh mata, namun Ia adalah yang melihat mata; bukanlah sesuatu yang dapat didengar oleh telinga, namun Ia adalah yang mendengar telinga." Ia melampaui segala batas yang bisa kita bayangkan.
Namun manusia hidup dengan tubuh dan pikiran yang terbatas. Kita butuh pegangan. Bayangkan jika seseorang disuruh memusatkan pikiran pada sesuatu yang tak berwujud, tak bernama, tak terbayangkan — siapa yang sanggup melakukannya dengan mudah? Maka dari itu, Tuhan juga menyapa kita dalam wujud yang bisa kita pahami — yang disebut Saguṇa Brahman — Tuhan dengan rupa, dengan sifat, dengan nama. Bukan karena Tuhan itu terbatas pada rupa tersebut, melainkan karena kasih-Nya, Ia memudahkan jalan bagi kita yang masih terbatas.
Hal ini ditegaskan dengan sangat jelas dalam Bhagavad Gītā bab 12 ayat 5. Di sana Sang Kṛṣṇa bersabda: "Sesungguhnya bagi mereka yang pikirannya tertuju pada Yang Tak Tampak dan Tak Terwujud, kesusahannya lebih besar. Karena jalan ini sulit dijalani oleh manusia yang bersifat berbadan." Artinya: menyembah Tuhan yang tak berwujud itu memang jalan yang paling tinggi, tetapi sangat berat bagi kita manusia biasa. Maka Tuhan mempermudah — Ia hadir dalam rupa, dalam simbol, dalam arca, agar kita punya pegangan untuk menumpahkan bakti kita.
Lantas, apakah gambar atau arca itu Tuhan? Bukan. Arca itu ibarat peta bukanlah wilayahnya, foto seseorang bukanlah orangnya sendiri, tanda penunjuk jalan bukanlah tujuannya. Arca, lukisan, atau simbol itu adalah jembatan, bukan tujuannya. Ia adalah sarana agar pikiran kita yang berantakan bisa menyatu dan terarah kepada Yang Satu. Ketika kita memandang arca, kita tidak menyembah batu atau kayu itu — kita menggunakan rupa itu sebagai pintu masuk untuk merenungkan sifat-sifat Tuhan yang dilambangkan di dalamnya.
Sang Upaniṣad juga menyebutkan bahwa Tuhan memiliki dua aspek: yang tampak dan yang tak tampak, yang berwujud dan yang tanpa wujud. Keduanya bukan Tuhan yang berbeda — keduanya adalah satu Yang Sama, dilihat dari pintu yang berbeda. Seperti air: dalam uap tak tampak, dalam es terlihat jelas wujudnya. Tetapi airnya tetap satu. Demikian pula Tuhan: tanpa rupa sejatinya, namun berupa rupa demi kasih kepada makhluk-Nya.
Maka pertanyaannya seharusnya bukan lagi: "Mengapa Tuhan digambar?", melainkan: "Apakah gambar itu kita anggap sebagai batas Tuhan, atau kita jadikan jendela untuk melihat Yang Tak Terbatas?"
Jika kita menjadikan arca sebagai batas yang mengatakan "Tuhan hanya sebatas ini", maka itu keliru. Tetapi jika kita menjadikannya simbol, sarana, jembatan untuk memusatkan bakti dan pikiran kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang sesungguhnya melampaui segala rupa — maka itulah kebijaksanaan yang diajarkan oleh kitab-kitab suci kita. Seperti dikatakan dalam Weda: "Para penyair menyebut Yang Satu dengan banyak nama" — bukan karena banyak Tuhan, melainkan karena satu Cahaya itu dipahami melalui banyak jendela.
Jadi, Tuhan tidak pernah terbatas oleh gambar-Nya. Justru gambar itu adalah bukti betapa luas kasih-Nya — bahwa Yang Tak Terukur sudi didekati melalui ukuran yang bisa kita jangkau. Yang Tak Terlukis sudi digambarkan agar kita punya pegangan pulang ke rumah-Nya.