Bab 21 Apakah Sebenarnya Bhutakala Itu?
Di dalam ajaran Hindu Dharma dan kekayaan budaya Nusantara, khususnya yang hidup subur di Pulau Bali, istilah Bhutakala sudah sangat akrab terdengar di telinga masyarakat luas. Namun, kenyataannya tidak semua orang memahami makna yang sebenarnya tersembunyi di balik kata tersebut. Banyak orang hanya mengira Bhutakala adalah sekadar hantu, makhluk halus yang menakutkan, atau roh jahat yang harus dijauhi. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, konsep ini jauh lebih luas, jauh lebih mendalam, dan memiliki makna filosofis yang sangat tinggi yang berkaitan erat dengan tatanan alam semesta dan keseimbangan hidup manusia.
Secara etimologi atau asal-usul kata, Bhutakala terbentuk dari gabungan dua kata bahasa Sanskerta, yaitu Bhuta dan Kala. Kata Bhuta memiliki arti sesuatu yang sudah ada, sesuatu yang telah terjadi, atau sesuatu yang telah diwujudkan menjadi nyata. Dalam konteks ilmu alam semesta atau kosmologi, istilah ini juga merujuk pada unsur-unsur dasar pembentuk dunia dan segala isinya, yang dikenal sebagai Panca Mahabhuta, meliputi tanah, air, api, angin, dan akasa atau ruang hampa. Sementara itu, kata Kala berarti waktu, kekuatan dahsyat, atau energi penggerak yang mengatur proses dan perjalanan segala sesuatu di alam raya ini. Jika digabungkan, Bhutakala dapat diartikan sebagai energi atau kekuatan yang sudah ada sejak awal mula masa penciptaan, yang berperan besar dalam menjaga, mengatur, dan menyeimbangkan segala keteraturan alam semesta. Jadi, keberadaan ini bukan sekadar makhluk gaib yang berwujud fisik, melainkan juga merupakan manifestasi dari energi kosmis yang besar dan nyata keberadaannya di alam ini.
Menelusuri asal-usul dan sejarah penciptaannya sebagaimana tertulis dalam berbagai naskah kuno dan warisan leluhur, Bhutakala adalah ciptaan langsung dari Tuhan Yang Maha Esa. Keberadaan mereka dimanifestasikan melalui kekuatan Bhatara Siwa atau Bhatari Durga, yang merupakan aspek Tuhan yang berwatak dahsyat, pelindung, dan penyeimbang alam. Di dalam Lontar Purwa Bhumi Kemulan dan Lontar Siwa Gama, diceritakan bahwa ketika alam semesta akan diciptakan, muncullah berbagai jenis makhluk halus dan kekuatan gaib yang ditugaskan khusus untuk menjaga batas serta keseimbangan antara Bhuwana Agung atau alam semesta raya, dengan Bhuwana Alit, yaitu alam manusia atau diri kita sendiri. Ada pula versi kisah yang menyebutkan bahwa golongan Bhuta ini berasal dari bagian-bagian tubuh Dewa-Dewi, atau merupakan roh-roh suci yang memang memiliki tugas khusus di alam niskala untuk mengatur hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh indra manusia.
Satu hal yang paling penting untuk diluruskan adalah sifat dasar dari Bhutakala itu sendiri. Berbeda dengan anggapan umum, sifat Bhutakala tidak selamanya jahat, tidak selamanya mengganggu, dan tidak selamanya buruk. Mereka ibarat "polisi alam" atau "penjaga keseimbangan" yang bekerja sesuai hukum alam. Jika manusia hidup sesuai dengan Dharma atau kebenaran, menjaga kesucian diri, serta menghormati alam dan segala isinya, maka Bhutakala akan bersifat ramah, damai, dan bahkan bisa menjadi pelindung yang setia bagi manusia. Namun, sebaliknya, jika manusia banyak berbuat dosa, melanggar aturan alam, serakah, berbuat kerusakan, atau mengabaikan kewajiban spiritual dan penghormatan kepada Sang Pencipta, maka energi Bhutakala itu akan berubah wajah menjadi kekuatan yang mengganggu. Ia bisa menimbulkan ketidaktenangan, kegelisahan, penyakit, kesialan, atau bencana sebagai bentuk teguran alam agar manusia kembali ke jalan yang benar.
Dalam kondisi tertentu, energi Bhutakala ini pun bisa mempengaruhi alam pikiran dan batin manusia. Ia bisa membuat emosi manusia menjadi tidak stabil, amarah meledak-ledak, nafsu menjadi tak terkendali, dan perilaku menjadi menyimpang dari norma kesusilaan maupun agama. Kondisi inilah yang dalam istilah agama dan budaya disebut sebagai manusa mawak bhuta, artinya manusia yang sifat, watak, dan perilakunya telah terpengaruh atau dimasuki oleh energi negatif, sehingga tingkah lakunya persis seperti sifat Bhuta yang kasar, liar, dan tidak teratur.
Keberadaan dan pemahaman tentang Bhutakala ini mengajarkan kita satu kebenaran besar: bahwa dunia tempat kita hidup ini tidak hanya terdiri dari apa yang bisa dilihat oleh mata kasar saja atau yang disebut alam sekala. Di samping itu, ada pula alam niskala, dunia gaib atau kekuatan tak terlihat yang nyata keberadaannya, yang senantiasa berinteraksi, berhubungan, dan mempengaruhi kehidupan kita setiap saat. Kita tidak hidup sendirian di dunia ini, ada jutaan makhluk dan kekuatan lain yang hidup berdampingan dengan kita. Oleh karena itu, umat Hindu selalu diajarkan untuk hidup berhati-hati, menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan, serta rutin melaksanakan upacara persembahan seperti Bhuta Yajna atau Caru. Tujuan utama dari upacara ini sama sekali bukan untuk menakut-nakuti diri sendiri, melainkan untuk menenangkan, mendamaikan, dan menyeimbangkan energi-energi tersebut, agar tidak ada gesekan atau gangguan, sehingga tercipta keharmonisan sejati di antara alam nyata dan alam gaib.
Meskipun tidak ada satu kitab utama yang secara khusus membahas tentang Bhutakala, konsep ini tersebar dan terintegrasi dalam berbagai kitab suci serta naskah kuno yang menjadi landasan ajaran Hindu, antara lain:
1. Lontar Purwa Bhumi Kemulan: Naskah ini menjelaskan secara rinci asal-usul penciptaan alam semesta, susunan dunia, serta berbagai jenis makhluk yang diciptakan Tuhan, termasuk golongan Bhutakala lengkap dengan tugas, kedudukan, dan hak-hak mereka dalam tatanan kehidupan.
2. Lontar Siwa Gama: Berisi ajaran mendalam mengenai kosmologi dan teologi Hindu. Di dalamnya dijelaskan hubungan timbal balik antara Dewa, manusia, dan makhluk halus, serta mekanisme bagaimana energi Kala atau waktu dan kekuatan itu bekerja mempengaruhi kehidupan makhluk.
3. Manava Dharma Sastra: Di dalam kitab hukum agama ini ditegaskan bahwa golongan makhluk seperti Bhuta, Raksasa, Yaksa, dan Kinnara termasuk dalam golongan Sadya, yaitu ciptaan Tuhan yang tingkatannya berada di bawah para Dewa namun tetap di atas manusia dalam hal kekuatan, dan mereka tetap memiliki hak serta peran yang harus dihormati dalam tatanan alam semesta.
4. Berbagai Kitab Purana: Seperti Brahmanda Purana dan Shiva Purana, yang banyak memuat kisah-kisah pewayangan dan mitologi suci yang menggambarkan keberadaan berbagai entitas gaib sebagai bagian tak terpisahkan dari ciptaan-Nya yang maha luas.
Dari penjelasan di atas, kita bisa menarik benang merah bahwa Bhutakala adalah bagian mutlak dan tak terpisahkan dari ciptaan Tuhan. Memahami keberadaan dan hakikatnya bukanlah untuk menjadi takut, melainkan untuk belajar menjadi manusia yang lebih rendah hati, sadar akan batas kemampuan diri, dan senantiasa berusaha hidup selaras, seimbang, dan harmonis dengan seluruh isi alam semesta.
Sering kali muncul pertanyaan besar di benak orang luar maupun mereka yang baru mendalami ajaran Hindu: "Apakah Hindu di Bali Menghormati Bhutakala? Kenapa harus diberi persembahan? Apakah ini berarti menyembah makhluk halus?"
Pertanyaan ini wajar, namun jawabannya terletak pada pemahaman yang utuh dan mendalam. Pertama-tama, perlu diketahui bahwa tradisi memberikan perhatian dan persembahan kepada Bhutakala sama sekali bukanlah hal yang baru atau hanya ada di wilayah Bali saja. Di tanah asalnya, India, tradisi dan pemahaman yang sama persis juga diakui dan dilaksanakan sejak zaman dahulu kala. Hal ini bahkan bisa kita lihat dan buktikan melalui media populer seperti serial film religius berjudul Mahadewa, produksi asli India. Di sana diceritakan kisah peperangan besar antara para Dewa melawan para Bhuta, dan tergambar jelas bahwa pemimpin tertinggi para Dewa adalah Dewa Siwa, dan di sisi lain, para Bhuta pun juga merupakan ciptaan dari kekuasaan-Nya. Kesimpulan yang bisa diambil adalah: Dewa dan Bhuta itu pada prinsipnya sama-sama adalah anak-anak Tuhan, sama-sama berasal dari Sang Pencipta, hanya berbeda fungsi, sifat, dan wataknya. Inilah inti dari konsep agung yang dipegang teguh oleh Hindu Bali, yaitu "Dewa Ya Bhuta Juga Ya", yang artinya Dewa itu ada, Bhuta pun juga ada; keduanya harus diakui, dihormati, dan diseimbangkan keberadaannya.
Penerapan nyata dari pemahaman ini bisa kita saksikan dengan sangat jelas pada rangkaian hari suci Nyepi, tepatnya pada hari Pengrupukan atau malam sehari sebelum Nyepi. Di sana ada tradisi bernama Nyomia Bhuta. Ritual ini bertujuan mulia untuk menenangkan, mendamaikan, dan menyeimbangkan energi-energi yang dianggap negatif, kasar, atau destruktif yang berkeliaran di sekitar kehidupan manusia. Istilah Bhuta di sini memang merujuk pada roh atau entitas gaib yang berwatak besar, kuat, dan jika tidak diatur bisa mengganggu ketenangan. Melalui Nyomia Bhuta, umat Hindu memohon kedamaian agar energi-energi tersebut mau tenang, tidak merusak, dan justru ikut menjaga ketenangan bersama. Pelaksanaannya melibatkan sesajen berisi makanan, bunga, dan benda sakral yang diletakkan di tempat-tempat strategis, seperti persimpangan jalan atau batas wilayah desa. Intinya adalah menjaga jembatan hubungan antara alam sekala dan niskala demi keharmonisan hidup bermasyarakat.
Simbol yang paling ikonik dari hari Pengrupukan adalah keberadaan Ogoh-Ogoh. Patung-patung raksasa yang digarap indah dan menyeramkan itu adalah wujud nyata atau personifikasi dari Bhutakala itu sendiri. Karena diyakini bahwa Bhuta adalah ciptaan Tuhan, maka sikap umat Hindu tidaklah mengusir, memusuhi, atau membenci mereka, berbeda dengan pandangan atau cara agama lain yang cenderung mengusir roh jahat dengan cara kasar atau kekerasan. Cara Hindu jauh lebih lembut, penuh kasih sayang, dan bijaksana. Bhuta diberi Labahan atau Segehan, yaitu makanan yang pantas bagi mereka, agar hati mereka senang dan mau bekerja sama damai dengan manusia.
Penting sekali untuk meluruskan anggapan bahwa memberi makanan sama dengan menyembah. Itu adalah kesalahpahaman besar. Hal ini sama persis dengan logika kita memberi makan sapi, kucing, atau hewan kesayangan. Kita memberi makan mereka bukan berarti kita menyembah hewan tersebut, melainkan sebagai wujud kasih sayang, kepedulian, dan pengakuan bahwa makhluk itu juga hidup dan berhak diperlakukan baik. Nilai ini disebut Prema, yaitu kasih sayang yang meluas tanpa batas kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan.
Banyak orang yang suka berpikir kritis sering bertanya: "Apakah tradisi ini ada tertulis di kitab suci atau tidak?" Pertanyaan ini sangat wajar dan justru menunjukkan kedewasaan berpikir. Sebagai orang yang memegang teguh ajaran, kita harus bisa menjelaskan bahwa Hindu bukanlah agama hukum yang kaku, yang hanya berpegang teguh pada apa yang tertulis hitam di atas putih saja. Hindu harus dipelajari secara komprehensif, menyeluruh, dan kronologis, melihat hubungan antara teks, sejarah, budaya, dan filosofinya. Contohnya lagi adalah Ogoh-Ogoh. Memang, jika dicari kata "Ogoh-Ogoh" di Weda atau sastra kuno, tidak akan ditemukan. Nama dan bentuknya adalah perkembangan budaya lokal. Namun, inti dari upacaranya, yaitu mendamaikan dan mengendalikan Bhutakala, adalah ajaran yang jelas ada di dalam kitab suci. Ogoh-Ogoh hanyalah wujud visualisasi agar kita bisa lebih mudah memahami dan melaksanakan ritual tersebut.
Ada pendapat dari kalangan pemikir yang menyarankan agar tradisi mengarak Ogoh-Ogoh dihapus karena dianggap tidak ada dasarnya. Padahal, jika dihapus, sama saja artinya menghapus sebagian besar wajah Hindu Bali, karena ini juga merupakan bentuk hiburan keagamaan, seni, dan pendidikan nilai bagi masyarakat. Yang mutlak harus ada saat menyambut Nyepi adalah penyucian desa dan rumah dengan api untuk menetralisir kekotoran. Ogoh-Ogoh ada karena ia adalah simbol dari Bhutakala atau sifat-sifat negatif yang ada di dalam diri manusia sendiri, seperti nafsu, amarah, keserakahan, dan kejahatan. Sifat-sifat ini tidak bisa dihilangkan dengan cara dibunuh atau dibuang, melainkan harus diredam dan dikendalikan dengan cara halus, yaitu melalui persembahan Tawur Kesanga. Ketika Bhutakala hatinya sudah senang dan damai, maka energi negatif itu berubah menjadi energi positif yang berfungsi seperti Dewa. Saat itulah kita bisa tenang melaksanakan Catur Brata Penyepian, empat pantangan suci: tidak menyalakan api (menandakan memadamkan api amarah dan hawa nafsu yang disebut Sadripu), tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak bersenang-senang.
Namun, di tengah kebebasan berkarya, harus ada batasan yang tegas. Saya sangat mendukung keberadaan Ogoh-Ogoh, asalkan bentuknya tetap sesuai tema, yaitu wujud Bhutakala, Raksasa, Rangda, atau simbol sifat buruk manusia. Sangat keliru dan salah besar jika ada oknum yang membuat Ogoh-Ogoh bernuansa porno, memperlihatkan alat kelamin, atau bentuk yang tidak senonoh. Hal itu sama sekali bukan ajaran agama, melainkan ketidaktahuan dan pelanggaran terhadap norma kesusilaan serta Undang-Undang Pornografi. Hal itu tidak ada hubungannya dengan makna suci Ogoh-Ogoh, melainkan kesalahan individu yang tidak paham filsafat agama.
Nilai mendasar lainnya yang sering disalahartikan adalah konsep memanusiakan alam, lingkungan, dan Tuhan. Orang luar sering melihat tradisi menghiasi pohon dengan kain, memberi sesajen ke pohon, batu, atau sungai, lalu langsung menuduh Hindu Bali sebagai pemuja pohon, batu, atau berhala. Padahal, di balik itu ada pemahaman luhur Wyapi Wyapaka, yang artinya Tuhan Maha Ada di mana-mana, meliputi segala sesuatu, dan bersemayam di dalam segala ciptaan-Nya. Saat kita memberi penghormatan pada pohon, kita tidak memuja kayunya, melainkan memuja kehadiran Tuhan di sana dan menghormati fungsi pohon sebagai penopang kehidupan. Begitu pula dengan tradisi mempersembahkan darah atau daging hewan dalam upacara tertentu. Hal ini karena Hindu Bali menganut paham Siwa Sidanta dan Bairawa, yang mengakui adanya dua sifat alam: damai dan dahsyat. Persembahan itu bukan untuk setan, melainkan untuk makhluk-makhluk yang memang berwatak unsur tersebut, agar tercipta keseimbangan.
Inti dari pandangan Hindu adalah Bhutakala atau kekuatan yang dianggap jahat itu bukanlah unsur kejahatan mutlak, bukan musuh yang harus dimusnahkan, atau sesuatu yang asing di antara manusia dan Tuhan. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari penciptaan, lahir dari Sang Pencipta yang sama. Tanpa adanya konsep kegelapan, maka konsep cahaya tidak akan bermakna. Tanpa ada kekuatan berat, maka keseimbangan tidak akan terasa. Inilah inti dari ajaran Rwa Bhineda, dua kutub yang berbeda namun saling melengkapi dan menyeimbangkan, seperti siang dan malam, panas dan dingin, baik dan buruk. Alam semesta ini berdiri tegak di atas hukum keseimbangan ini.
Oleh karena itu, dalam setiap upacara atau Yadnya, umat Hindu selalu mengundang kehadiran para Bhutakala, memberi mereka bagian persembahan yang layak, agar setelah kebutuhan mereka terpenuhi, mereka bersedia menjaga ketertiban dan tidak mengganggu jalannya ibadah manusia. Sikap bersahabat ini terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari, misalnya melalui Yadnya Sesa, yaitu menyisihkan sedikit makanan setiap pagi untuk alam dan makhluk halus. Ini bukan ketakutan, melainkan filosofi berbagi dan bersyukur yang bersumber langsung dari Weda, bukan sekadar ritual tanpa makna.
Dalam pelaksanaan ritual Mecaru atau Tawur Kesanga, maknanya sangat dalam. Ini adalah wujud membayar atau mengembalikan sari-sari alam yang telah kita ambil dan gunakan untuk kehidupan manusia. Persembahan ini diberikan kepada para Bhuta sebagai "upah damai", agar mereka berdamai dan tidak mengganggu manusia dalam kurun waktu tertentu. Jika tidak diberi damai, kekuatan Bhuta yang menyukai unsur daging dikhawatirkan akan mengambil paksa apa yang ada dalam persembahan suci. Namun, jika persembahan kepada Dewa itu murni nabati atau tidak mengandung unsur yang disukai Bhuta, maka ritual Mecaru pun tidak wajib dilakukan. Kata Nyomya dalam konteks ini berarti berdamai, perjanjian damai yang saling menguntungkan dan menciptakan harmoni.
Hal ini sejalan dengan penjelasan dalam kitab suci Bhagawad Gita terutama pada Sloka 13-21, yang menjelaskan bahwa alam materi adalah penyebab dari segala sebab-akibat, sedangkan makhluk hidup adalah yang merasakan akibat dari perbuatannya, baik itu penderitaan maupun kenikmatan. Di dalamnya dijelaskan pula bahwa roh atau Atman yang menempati wujud Bhuta akan berprilaku sesuai dengan wadah dan sifat bawaan yang dimilikinya, dan mereka tidak bisa serta merta berubah menjadi seperti Dewa hanya dengan disuruh. Perubahan atau ketenangan mereka hanya bisa didapatkan melalui pendekatan kasih sayang dan persembahan yang pantas seperti dalam ritual Mecaru. Lebih jauh lagi, kitab suci ini mengingatkan bahwa yang berwenang menentukan naik-turunnya derajat roh atau makhluk adalah perbuatan mereka sendiri dan tingkat pengabdian atau bhakti mereka kepada Tuhan, bukan karena dikutuk atau ditakdirkan selamanya.
Terakhir, rangkaian upacara Pengrupukan dan Tawur Kesanga ini masuk ke dalam kategori Bhuta Yadnya, yaitu pengorbanan atau persembahan yang ditujukan untuk menyucihayakan dan mendamaikan unsur-unsur alam yang kasar. Tujuannya sangat mulia: menghilangkan unsur kejahatan, kerusakan, dan ketidaktertiban agar manusia bisa hidup sejahtera, damai, dan siap melaksanakan hari suci hening Nyepi dengan hati yang tenang dan bersatu kembali dengan Tuhan Yang Maha Esa.