Bab 19 Apakah Kematian Adalah Kembali Menjadi "Tidak Ada"?
Pertanyaan yang paling dalam, paling mendasar, dan paling mengusik hati setiap manusia sepanjang masa adalah ini: ketika napas berhenti, jantung berhenti berdetak, dan otak berhenti bekerja — apakah semuanya berakhir? Apakah kita kembali menjadi ketiadaan, sama seperti sebelum kita lahir? Apakah kematian adalah lenyapnya kesadaran selamanya? Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan. Ketika kita melihat tubuh yang mati, kita hanya melihat materi yang terurai. Tulang, daging, darah — semuanya kembali menjadi tanah, air, dan udara. Sehingga wajar jika banyak orang berpikir: jika tubuh hancur, maka penghuninya pun ikut lenyap. Jika otak berhenti, maka kesadaran pun berakhir. Namun dalam ajaran Hindu, jawabannya bukanlah "ada" atau "tidak ada" secara sederhana. Jawabannya justru berada di tempat yang berbeda — di pemahaman tentang apa itu "kita" sesungguhnya.
Ajaran Hindu memulai jawabannya dengan satu pernyataan mendasar: tubuh bukanlah kita. Tubuh hanyalah pakaian yang dipakai sementara, rumah yang ditempati untuk waktu tertentu. Dalam Bhagavad Gītā Bab II, Sloka 22, Sri Krishna berfirman dengan sangat jelas: "Sebagaimana seseorang membuang pakaian lama dan mengenakan pakaian baru, demikian pula jiwa yang berbadan membuang tubuh tua dan masuk ke dalam tubuh yang baru." Pernyataan ini mengubah seluruh pandangan tentang kematian. Jika tubuh bukanlah kita, maka hancurnya tubuh tidak berarti hancurnya kita. Kematian bukanlah kehancuran, melainkan pergantian pakaian, pindah rumah, atau beranjak dari satu ruang ke ruang lain.
Lebih lanjut, dalam Bhagavad Gītā Bab II, Sloka 20, ditegaskan sifat kekal jiwa: "Untuk jiwa tidak ada kelahiran maupun kematian; ia tidak pernah menjadi ada, juga tidak berhenti untuk ada. Ia tidak dilahirkan, abadi, tetap ada, dan purbakala; ia tidak terbunuh ketika tubuh dibunuh." Ini berarti kesadaran yang kita miliki — yang kita sebut "aku" — bukanlah produk otak. Otak hanyalah alat, seperti radio yang menerima sinyal. Ketika radio rusak, sinyal tidak lenyap; ia hanya tidak bisa lagi diterima oleh alat itu. Demikian pula ketika tubuh mati, kesadaran tidak musnah, melainkan terlepas dari keterbatasan fisik dan melanjutkan perjalanannya.
Namun ajaran Hindu juga mengakui: ada kondisi di mana seseorang benar-benar bisa terjatuh ke dalam keadaan yang terasa seperti "ketiadaan" — tetapi itu bukan karena jiwa lenyap, melainkan karena kesadaran tertutup oleh ketidaktahuan. Dalam Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 4.3.22, dijelaskan bahwa dalam keadaan tidur yang sangat dalam, seseorang menjadi satu dengan Pengetahuan, sehingga tidak lagi mengetahui "aku adalah aku" maupun "aku adalah yang lain". Demikian pula pada saat kematian, jika jiwa masih terikat oleh keinginan dan keterbatasan material, ia masuk ke alam pembebasan sementara yang disebut alam istirahat, sebelum kembali mengambil wujud baru — sehingga bagi yang melihatnya, seolah-olah ia lenyap. Padahal ia hanya beristirahat, sama seperti kita tidur setiap malam, bukan berarti kita lenyap.
Konsep tentang "ketiadaan sebelum lahir" yang dikemukakan oleh sains modern ternyata juga dijawab dengan sangat dalam oleh Chāndogya Upaniṣad 6.9.1–2: "Pada mulanya, alam semesta hanyalah Ada, satu saja tanpa yang kedua. Sebagian orang berkata: pada mulanya hanyalah Tiada, satu saja tanpa yang kedua; dari Tiada itu lahirlah Ada. Tetapi sesungguhnya, pada mulanya hanyalah Ada, satu saja tanpa yang kedua. Bagaimana mungkin dari Tiada lahir Ada?" Pernyataan ini sangat mendalam. Yang kita sebut "ketiadaan" sebelum lahir sebenarnya bukan ketiadaan mutlak. Itu adalah keadaan di mana kesadaran belum terwujud dalam nama dan wujud, tetapi tetap ada dalam potensi Tuhan. Sama seperti sebelum benih tumbuh menjadi pohon, pohon itu tidak lenyap — ia ada di dalam benih, menunggu waktu untuk tumbuh. Demikian pula kita, sebelum lahir dan setelah mati — kita tetap ada, hanya saja dalam wujud yang berbeda, yang tidak bisa diukur oleh alat fisika maupun indra kasar.
Lalu, mengapa banyak orang merasa bahwa setelah kematian akan menjadi ketiadaan? Karena kita mengidentifikasikan diri kita dengan tubuh dan pikiran. Kita berpikir: "aku adalah tubuh ini, aku adalah pikiranku, aku adalah ingatanku." Maka ketika tubuh hancur dan ingatan lenyap, kita berpikir: "aku sudah tidak ada." Padahal itu sama persis seperti seseorang yang melihat gelas pecah lalu berkata "airnya sudah mati." Airnya tidak mati — ia tumpah, meresap, dan kembali ke sumbernya. Gelas itu saja yang hancur. Dalam Mahābhārata, Śānti Parva 239.20, dikatakan: "Api dapat terlihat ketika menyala, dan tidak terlihat ketika padam — tetapi api itu tidak lenyap. Demikian pula jiwa, terlihat ketika bersinar dalam tubuh, dan tidak terlihat ketika berpisah darinya — tetapi ia tetap ada."
Namun ada satu kebenaran yang sangat penting dari gagasan "ketiadaan" itu — kebenaran yang justru mengajarkan kita untuk menghargai hidup ini lebih dalam. Jika memang setelah kematian tidak ada apa-apa, maka hidup ini justru menjadi sangat berharga — karena mungkin hanya sekali. Dan dalam ajaran Hindu pun, meskipun jiwa itu kekal, kehidupan di dunia ini adalah kesempatan yang sangat langka dan berharga. Dalam Bhagavad Gītā Bab IX, Sloka 33, dikatakan: "Manusia yang lahir di dunia ini adalah tempat yang penuh penderitaan, tetapi itu adalah jalan menuju pembebasan." Artinya: meskipun ada kehidupan setelah kematian, wujud manusia ini adalah kesempatan emas untuk tumbuh, belajar, dan mencapai pembebasan. Jangan disia-siakan.
Maka pertanyaan "apakah setelah mati kita menjadi tidak ada?" sebenarnya adalah pertanyaan yang salah sasaran. Yang benar-benar perlu kita tanyakan adalah: "siapakah 'kita' itu sesungguhnya?" Jika kita adalah tubuh — maka ya, kita akan lenyap. Jika kita adalah pikiran — maka ya, kita akan hilang. Tetapi jika kita adalah kesadaran yang lebih dalam dari tubuh dan pikiran — maka tidak ada kematian, tidak ada ketiadaan, tidak ada akhir. Seperti ombak yang kembali ke laut — ombak itu lenyap sebagai ombak, tetapi ia tetap ada sebagai air. Seperti nyala api yang berpindah dari satu lilin ke lilin lain — nyala itu sama, meskipun wadahnya berbeda. Itulah ajaran Hindu tentang kematian: bukan akhir, bukan ketiadaan, melainkan kembali ke sumber, beristirahat sejenak, lalu melanjutkan perjalanan dengan wujud yang baru. Dan pada akhirnya, ketika perjalanan itu selesai — kita tidak kembali menjadi "tidak ada", melainkan menjadi "Segala Ada", bersatu dengan Sang Hyang Widhi, tanpa lagi terpisah, tanpa lagi terikat oleh waktu dan ruang.