Bab 16 Mengapa Umat Hindu Tidak Ada Tim Misionaris Seperti Agama Lain?
Sering kita melihat di sekeliling, ada kelompok agama yang sangat gencar berkeliling, mengajak, mengundang, bahkan mendatangi rumah ke rumah untuk menyebarkan ajarannya, berharap orang lain ikut serta dalam kepercayaan yang mereka anut. Namun, jika kita perhatikan agama Hindu, situasinya sangat berbeda. Tidak ada tim misionaris, tidak ada kelompok yang berkeliling mengajak orang masuk, tidak ada ajakan yang disampaikan secara paksa atau terus-menerus. Hal ini sering menimbulkan pertanyaan besar: apakah umat Hindu tidak peduli? Apakah mereka tidak takut suatu hari nanti jumlah penganutnya makin sedikit, hilang, atau bahkan punah dari muka bumi? Jawabannya tidak terletak pada ketidakpedulian, melainkan pada pemahaman ajaran yang sangat mendasar, luas, dan berbeda dari pandangan agama lainnya, yang semuanya tertulis jelas dalam kitab-kitab suci Weda, Upanishad, Bhagavad Gita, dan Dharmasastra.
Pertama-tama, kita harus memahami apa makna sebenarnya dari Sanatana Dharma, nama asli dari ajaran Hindu. Dalam Rgveda X.129.7, tertulis kalimat suci yang sangat terkenal: "Ekam Sat Vipra Bahudha Vadanti", yang artinya: "Kebenaran itu satu, orang-orang bijak menyebutnya dengan berbagai nama dan jalan yang berbeda". Ini adalah fondasi utama. Menurut ajaran ini, Tuhan atau Kebenaran Mutlak itu hanya satu, namun jalan menuju-Nya banyak sekali, beragam, dan disesuaikan dengan kondisi, budaya, dan kesiapan jiwa masing-masing manusia. Tidak ada satu jalan yang mengaku satu-satunya dan membenci jalan lain. Karena itu, mengajak atau memaksa orang lain pindah ke agama Hindu dianggap tidak perlu, bahkan tidak tepat. Sebab jika seseorang sudah berjalan di jalan kebaikan, kejujuran, dan ketuhanan sesuai keyakinannya sendiri, maka ia sebenarnya juga sedang berjalan menuju Tuhan yang sama. Memindahkannya hanya akan mengganggu perjalanan jiwanya, bukan membantunya. Hal ini ditegaskan lagi dalam Bhagavad Gita Bab 4 ayat 11, di mana Sri Krishna bersabda: "Sebagaimana manusia mendekati-Ku, Aku pun menerimanya sesuai dengan cara mereka itu; semua jalan, wahai putra Kunti, pada akhirnya menuju kepada-Ku."
Lalu, mengapa tidak ada upaya memperbanyak penganut demi keberlangsungan agama? Dalam pandangan Hindu, agama bukanlah organisasi yang harus besar jumlahnya, bukan pula kekuatan politik yang harus mendominasi. Agama adalah Dharma, yaitu kebenaran, kewajiban, dan hukum alam yang abadi, ada sebelum zaman dan akan tetap ada meski tidak ada manusia yang menyebutnya. Di dalam Manawa Dharmasastra Bab 1 ayat 108, dijelaskan bahwa Dharma itu sendiri adalah aturan yang mengatur alam semesta, dan tugas manusia bukanlah memperbanyak anggota, melainkan menjalankan kebenaran itu dalam hidupnya. Kekuatan agama Hindu tidak terletak pada jumlah penganut, melainkan pada kebenaran ajarannya yang selaras dengan hukum alam dan keadilan Tuhan. Seperti matahari yang tetap bersinar meski tidak ada yang memujanya, kebenaran akan tetap ada dan menarik hati manusia yang mencari, tanpa perlu dipaksa atau diiklankan.
Konsep reinkarnasi dan hukum Karma juga menjadi alasan utama mengapa umat Hindu tidak merasa perlu khawatir akan berkurang atau punah. Dalam Brhadaranyaka Upanishad Bab 4 ayat 4.5, tertulis: "Sesuai dengan perbuatan dan tingkah lakunya, demikianlah ia akan menjadi; orang yang berbuat baik akan menjadi baik, orang yang berbuat jahat akan menjadi jahat." Setiap jiwa berjalan sesuai tingkat kematangan dan pengalamannya sendiri. Ada jiwa yang masih butuh belajar melalui jalan lain, ada jiwa yang sudah siap memahami kebenaran yang lebih luas, dan secara alami akan tertarik mendekat ke ajaran Hindu. Kelahiran sebagai umat Hindu sendiri dianggap sebagai hasil dari perbuatan baik dan pencarian kebenaran di kehidupan-kehidupan sebelumnya, bukan sekadar kebetulan lahir dari orang tua Hindu. Jadi, agama Hindu tidak perlu mengejar orang, karena pada waktunya, jiwa yang sudah matang akan datang sendiri mendekat, memahami, dan menjalani ajaran ini. Memaksa orang yang belum siap masuk hanya akan membuat mereka tidak mengerti maknanya, hanya mengikuti bentuk luar saja, dan itu tidak ada gunanya bagi pertumbuhan rohani mereka.
Kekhawatiran akan punah atau berkurang jumlahnya, dalam pandangan kitab suci, tidak pernah menjadi masalah utama. Mengapa? Karena Hindu bukan agama yang terikat pada satu pendiri, satu peristiwa sejarah, atau satu kelompok ras tertentu. Ia adalah kumpulan kebijaksanaan yang dikumpulkan dari zaman ke zaman oleh para Rsi, orang-orang suci yang melihat kebenaran alam semesta. Dalam Katha Upanishad Bab 2 ayat 18, dijelaskan bahwa kebenaran itu tidak lahir dan tidak mati, tidak dibuat dan tidak bisa dihapus. Selama masih ada manusia yang berakal budi, yang mencari keadilan, kebenaran, dan hubungan dengan Tuhan, maka ajaran ini akan tetap ada, terpelihara, dan dijalani. Bahkan sejarah telah membuktikan: selama ribuan tahun, melewati penjajahan, perang, dan tekanan dari berbagai pihak, Hindu tidak pernah hilang, justru tetap bertahan dan menjadi sumber inspirasi dunia, karena ajarannya masuk akal, adil, dan selaras dengan hati nurani manusia.
Selain itu, cara menyebarkan ajaran Hindu berbeda sama sekali. Jika agama lain menyebar lewat misionaris, umat Hindu menyebar lewat contoh hidup, kebudayaan, sastra, dan kearifan. Di dalam Bhagavad Gita Bab 3 ayat 21, Sri Krishna bersabda: "Apa saja yang dilakukan oleh orang yang mulia, itulah yang diikuti oleh orang lain; apa saja standar yang ditetapkannya, itulah yang diikuti oleh dunia." Umat Hindu percaya, cara terbaik mengajarkan kebenaran bukan dengan kata-kata atau ajakan, tapi dengan menjadi orang yang jujur, damai, berbakti, dan menjaga alam. Jika kita bisa hidup bahagia, tenang, dan bijak berkat ajaran ini, maka orang lain akan melihat, bertanya, dan akhirnya tertarik untuk mempelajarinya sendiri. Itulah penyebaran yang paling murni dan abadi, tanpa paksaan, tanpa janji manis, dan tanpa rasa takut.
Jadi jawaban akhirnya: umat Hindu tidak memiliki tim misionaris karena mereka percaya kebenaran itu milik semua orang, dan setiap orang berhak berjalan di jalannya sendiri sesuai kesiapan jiwanya. Mereka tidak takut akan berkurang atau punah, karena mereka tahu bahwa Dharma atau kebenaran itu abadi, tidak bergantung pada jumlah orang yang mengikutinya, dan jiwa-jiwa yang siap akan selalu datang kembali untuk memahami dan menjalani kebenaran itu. Seperti yang tertulis indah dalam Bhagavad Gita Bab 9 ayat 29: "Aku sama terhadap semua makhluk; tidak ada yang Kucintai lebih dan tidak ada yang Kubenci. Namun mereka yang menyembah-Ku dengan bhakti, mereka ada di dalam-Ku dan Aku pun ada di dalam mereka."
Agama Hindu tidak mengejar jumlah, tapi mengejar kualitas hati dan pemahaman. Ia tidak takut hilang, karena ia adalah kebenaran yang ada di dalam hati setiap manusia, tinggal menunggu waktu dan kesiapan untuk disadari kembali.