Sabtu, 02 Mei 2026

SIAPA YANG MENCIPTAKAN PUJA TRI SANDHYA?

SIAPA YANG MENCIPTAKAN PUJA TRI SANDHYA?
 
Seringkali muncul pertanyaan di kalangan umat: Apakah Puja Tri Sandhya diciptakan oleh manusia tertentu, ataukah ia berasal langsung dari kitab suci? Jawabannya adalah: Puja Tri Sandhya tidak diciptakan atau dikarang, melainkan dihimpun dan disusun dari intisari mantra-mantra suci yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu dalam kitab Weda dan teks-teks suci lainnya, kemudian disatukan menjadi satu rangkaian doa yang terstruktur dan mudah dipelajari oleh umat di zaman modern.
 
Secara konsep, ajaran untuk beribadah tiga kali sehari pada saat pergantian waktu (fajar, tengah hari, dan senja) sudah tertulis jelas dalam kitab suci Weda. Dalam Rg Veda V.54.6 disebutkan perintah untuk melakukan persembahyangan tiga kali sehari, dan dalam Taitriya Aranyaka Upanisad dijelaskan bahwa pemujaan kepada Dewi Sawitri hendaknya dilakukan pada saat matahari terbit, matahari di atas kepala, dan saat matahari terbenam. Ini adalah dasar ajaran yang bersumber langsung dari wahyu.
 
Namun, bentuk Puja Tri Sandhya yang kita kenal sekarang—yang terdiri dari enam bait mantra dan dilafalkan secara seragam oleh umat Hindu di Indonesia—adalah hasil kerja keras para tokoh agama pada pertengahan abad ke-20. Proses penyusunan ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan zaman, agar ajaran suci tersebut dapat dipahami dan diamalkan dengan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat, serta menjadi identitas yang jelas dalam upaya pengakuan agama Hindu di Indonesia.
 
Tokoh utama yang berperan besar dalam merumuskan dan menyusunnya adalah Pandit Narendra Dev Pandit Shastri, seorang sarjana Hindu asal India yang datang ke Bali pada tahun 1950-an. Bersama tokoh-tokoh lokal terpelajar seperti I Gusti Bagus Sugriwa, beliau mengumpulkan berbagai mantra suci dari kitab-kitab Weda dan Upanisad, lalu menyusunnya menjadi rangkaian doa yang utuh. Hasil karya ini kemudian diterbitkan dalam buku berjudul Puja Tri Sandhya pada tahun 1950, dan selanjutnya disempurnakan serta dibakukan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) melalui berbagai pedoman resmi, terakhir disahkan dalam pedoman PHDI tahun 1991.
 
Meskipun disusun oleh manusia, seluruh isi mantra di dalamnya bukan karangan baru, melainkan diambil langsung dari sumber-sumber suci yang terpercaya, antara lain:
 
- Bait 1 (Mantra Gayatri): Bersumber dari Rg Veda III.62.10
- Bait 2: Bersumber dari Narayana Upanisad 2
- Bait 3: Bersumber dari Sivastava 3
- Bait 4-6: Bersumber dari Ksamamahadevastuti 2-5 atau Veda Parikrama
 
Jadi, Puja Tri Sandhya adalah jembatan antara ajaran kuno yang abadi dengan kebutuhan masa kini. Ia bukan ciptaan manusia semata, melainkan warisan suci yang disusun kembali agar tetap hidup, terjaga, dan dapat menyatukan hati umat dalam berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, tiga kali setiap hari.