Bab 11 Apakah Persembahan Hanya Sekadar Memberi Makan Leluhur?
Sering kali kita mendengar kalimat yang terlintas di benak banyak orang: “Leluhur tidak butuh persembahan.” Dan sejujurnya, perkataan itu bukanlah salah. Jika kita memandang persembahan hanya dari sisi bentuk fisiknya—sebagai makanan atau benda yang disajikan—maka memang benar. Roh leluhur, para dewa, maupun energi semesta yang telah melampaui batas dunia materi, tentu tidak memiliki tubuh fisik yang perlu diberi makan layaknya manusia yang membutuhkan asupan agar tetap hidup. Mereka tidak lapar, mereka tidak haus, dan mereka tidak bergantung pada apa yang kita persembahkan agar keberadaan mereka tetap terjaga.
Namun sayangnya, banyak yang berhenti pada pemahaman yang begitu sederhana itu. Padahal makna persembahan jauh melampaui sekadar menaruh makanan di atas selembar daun atau di atas pelinggih. Bagi mereka yang menyelami hakikatnya, persembahan bukanlah urusan memberi makan mereka. Maknanya begitu dalam, begitu halus, dan menyentuh inti hubungan kita sebagai manusia dengan asal-usul kita, dengan alam semesta, dan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Persembahan adalah sebuah sarana. Sebuah jembatan penghubung, sarana komunikasi yang menjembatani dunia yang terlihat dengan dunia yang tak terlihat, antara manusia yang masih hidup di dunia ragawi dengan para leluhur yang telah mendahului kita, serta dengan seluruh energi yang menyusun semesta ini.
Di zaman yang serba materialistis seperti sekarang ini, kemampuan manusia untuk merasakan dan berkomunikasi secara langsung dengan energi halus, dengan alam spiritual, semakin menipis. Tidak semua orang memiliki kesadaran batin yang cukup tinggi untuk bisa berbicara langsung, menyampaikan isi hati, atau memohon petunjuk tanpa perantara apa pun. Karena itulah, sejak zaman dahulu kala para leluhur kita yang bijaksana mewariskan segala tata cara, doa-doa suci, mantra-mantra, dan bentuk-bentuk persembahan yang kita kenal sebagai Banten. Semua itu diwariskan bukan karena mereka membutuhkannya, melainkan karena kita yang membutuhkannya—sebagai alat, sebagai medium yang nyata untuk menyampaikan niat tulus, doa yang tulus, rasa hormat yang tak terhingga, serta segala permohonan yang tergenggam di dalam sanubari kita.
Jika kita melihat ke sekeliling nusantara kita, baik di Bali, di tanah Jawa, maupun di pulau-pulau dan daerah lainnya, kita akan menjumpai bentuk persembahan yang beragam corak dan ragamnya. Ada yang sederhana hanya berupa sekuntum bunga dan sejumput nasi, ada pula yang lengkap dengan berbagai buah-buahan dan hasil bumi lainnya. Mengapa demikian? Karena setiap unsur yang tersusun rapi di dalam persembahan itu bukanlah benda mati yang diletakkan begitu saja. Setiap bunga, setiap warna, setiap jenis makanan yang kita haturkan mengandung makna mendalam, simbol-simbol yang sarat doa, dan pesan-pesan suci yang ingin kita sampaikan ke langit. Keragaman itu mengajarkan kita bahwa esensi persembahan bisa diwujudkan dalam berbagai rupa, menyesuaikan dengan kebutuhan dan kesadaran masing-masing, namun tujuannya tetap satu: memuliakan hubungan yang menyatukan segala sesuatu.
Tentu saja, jalan spiritual setiap insan berbeda-beda. Ada mereka yang batinnya sudah begitu terasah, kesadarannya sudah begitu tinggi, sehingga sudah tidak lagi memerlukan perantara benda apa pun. Mereka bisa duduk diam, menutup mata, dan seketika itu juga hatinya tersambung langsung dengan para leluhur dan semesta. Jika seseorang sudah mampu terhubung secara langsung tanpa perlu persembahan fisik, itu pun tidak menjadi masalah. Itu adalah tahapan perjalanan rohani yang indah dan patut dihargai. Tidak ada jalan yang salah, selama dihayati dengan ketulusan. Namun bagi mereka yang masih membutuhkan sarana itu, persembahan menjadi penuntun yang menenangkan jiwa.
Bagi diri saya pribadi lebih jauh lagi, persembahan bukan sekadar alat untuk berkomunikasi. Persembahan adalah wujud syukur yang paling nyata. Ia adalah ucapan terima kasih yang tak terucapkan oleh lisan, namun dinyatakan lewat tangan yang menata persembahan itu dengan penuh kasih. Terima kasih atas segala berkat yang senantiasa disuguhkan semesta dalam setiap langkah hidup kita—lewat tanah yang subur yang menghasilkan buah dan pangan, lewat alam yang menjaga dan memberi tempat berlindung, lewat setiap orang yang menyapa, membantu, dan menemani perjalanan hidup kita agar tidak terasa sepi. Ketika kita menata buah-buahan yang segar, menyusun bunga-bunga yang harum, menyalakan dupa yang asapnya menari naik ke angkasa, sebenarnya kita sedang melakukan hal yang paling mulia: kita sedang belajar menghargai kehidupan itu sendiri. Kita menyadari bahwa apa yang kita miliki bukan semata hasil usaha kita, melainkan titipan dan anugerah dari kekuatan yang jauh lebih besar dari diri kita.
Pada akhirnya, segala sesuatu yang kita haturkan di atas pelinggih atau di tempat suci itu, sesungguhnya bukan untuk “mereka”. Bukan untuk leluhur, bukan untuk dewa-dewa, bukan untuk siapa pun selain untuk pemurnian diri kita sendiri. Segala niat baik yang kita tanam, segala rasa hormat yang kita curahkan, segala ketulusan yang kita berikan—semuanya kembali berputar dan kembali kepada diri kita sendiri. Saat kita memberi dengan hati yang tulus, ikhlas tanpa mengharap balasan, dan penuh rasa syukur yang meluap-luap, maka di dalam sanubari kita akan tumbuh keindahan batin. Rasa damai yang tak tergoyahkan mulai menyelimuti, rasa cukup yang membuat hati kaya melingkupi hidup, dan rasa bahagia yang sederhana namun abadi bersemi di setiap sudut jiwa.
Dari kedamaian, rasa cukup, dan kebahagiaan itulah, lahir getaran-getaran halus yang disebut sebagai vibrasi yang baik. Energi positif yang memancar keluar dari diri seseorang yang hatinya tulus dan bersyukur akan menyebar ke sekelilingnya, menyentuh orang lain, menyentuh lingkungan, dan selaras dengan hukum alam semesta. Dan seperti hukum sebab-akibat yang tak pernah salah, energi yang baik yang kita pancarkan pada akhirnya akan menarik dan melahirkan berkat-berkat yang baik pula kembali ke dalam hidup kita.
Oleh karena itu, marilah kita memahami dengan bijak. Janganlah kita terlalu menyederhanakan makna sesaji hanya karena kita tidak memahami hakikat di balik bentuk fisiknya. Namun di sisi lain, jangan pula kita membuatnya menjadi sesuatu yang terlalu rumit, kaku, berat, hingga menakutkan dan jauh dari hati. Ingatlah selalu, esensi dari segala persembahan yang kita buat tidak pernah terletak pada seberapa besar harganya, seberapa banyak isinya, atau seberapa megah bentuknya. Esensinya tidak terletak pada benda itu sendiri, melainkan pada kemurnian niat yang melatarbelakanginya, pada kesadaran penuh akan kebersatuan kita dengan segala yang ada, dan pada ketulusan hati yang tulus ikhlas saat kita menghaturkannya.