Bab 25 Mengapa Pohon di Bali Diberi Kain?
Tradisi membalut pohon dengan kain di Bali bukanlah sekadar hiasan atau kebiasaan tanpa makna, melainkan sebuah praktik spiritual yang mendalam, yang terjalin erat dengan kepercayaan dan ajaran agama Hindu Dharma yang dianut mayoritas penduduk Pulau Dewata. Pemandangan ini sering kita jumpai di berbagai tempat suci, lingkungan pura, hingga pekarangan rumah warga, dan merupakan cerminan nyata dari hubungan harmonis antara manusia dan alam semesta. Dalam pandangan hidup masyarakat Bali, pohon tidak sekadar dianggap sebagai tanaman biasa, melainkan dipandang sebagai manifestasi kekuatan spiritual, tempat bersemayamnya energi suci, serta penghubung yang sakral antara dunia manusia dan dunia gaib.
Pohon-pohon tertentu, terutama yang dianggap keramat, berusia tua, atau memiliki nilai historis dan spiritual yang tinggi, seringkali dibalut dengan kain berwarna-warni yang indah. Kain-kain yang digunakan pun bukanlah sembarang kain, melainkan dipilih dengan cermat sesuai dengan jenis pohon, karakter energi yang dipercaya ada di dalamnya, serta tujuan dari pembalutan itu sendiri. Warna, motif, hingga cara membalutnya memiliki arti dan filosofi tersendiri, yang semuanya merupakan bentuk persembahan dan penghormatan tulus bagi kekuatan suci yang diyakini hadir dan bersemayam di sana. Pemilihan warna misalnya, mengandung simbolisme mendalam yang dikaitkan dengan dewa atau kekuatan alam tertentu: kain putih melambangkan kesucian, ketenangan, dan kebersihan jiwa; kain merah melambangkan semangat, keberanian, dan kekuatan pelindung; sedangkan kain kuning melambangkan kebijaksanaan, kemakmuran, dan cahaya ilahi. Demikian pula dengan motif kain yang digunakan, baik berupa pola bunga, dedaunan, maupun simbol-simbol keagamaan, semuanya memiliki makna doa dan harapan baik. Bahkan cara melilitkan kain pun tidak sembarangan, ada tata cara dan aturan khusus yang harus diikuti agar persembahan tersebut dianggap sah, bermakna, dan diterima oleh kekuatan spiritual yang dihormati.
Dasar utama dari tradisi ini bersumber dari ajaran Hindu tentang Tri Hita Karana, konsep keseimbangan hidup yang mengajarkan tiga penyebab kebahagiaan, yaitu hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam semesta. Pohon, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari alam, memegang peran vital dalam menjaga keseimbangan tersebut. Dengan membalut pohon menggunakan kain-kain suci, masyarakat Bali seolah sedang mengenakan pakaian kehormatan bagi makhluk alam, sekaligus menunjukkan rasa hormat yang tinggi, rasa syukur atas keberadaannya, serta permohonan perlindungan dan berkah dari kekuatan spiritual yang ada di dalamnya. Meskipun tidak terdapat satu Sloka kitab suci yang secara spesifik dan tunggal menjelaskan perintah membalut pohon dengan kain, namun landasan filosofisnya sangat kokoh dan dapat ditemukan di berbagai ajaran Hindu yang menekankan penghormatan terhadap alam. Inti keyakinannya berakar pada konsep bahwa Ida Bhatara atau Tuhan Yang Maha Esa bersemayam dan hadir di mana-mana, meliputi segala sesuatu di alam ini, termasuk di dalam pohon-pohon, dan elemen alam lainnya. Pohon-pohon keramat dianggap sebagai wujud nyata tempat bersemayamnya roh-roh leluhur, kekuatan alam, atau dewa-dewi pelindung, sehingga sudah menjadi kewajiban untuk menghormati, merawat, dan menjaga kelestariannya dengan sepenuh hati.
Lebih jauh lagi, konsep Tri Hita Karana ini juga menegaskan bahwa alam bukanlah entitas yang terpisah dari kehidupan manusia, melainkan satu kesatuan yang saling membutuhkan. Membalut pohon dengan kain adalah bentuk nyata dari komitmen masyarakat Bali untuk menjaga keseimbangan alam dan menghormati keberadaan semesta. Hal ini juga sejalan dengan konsep Dharma, yaitu menjalankan kewajiban dan tanggung jawab moral yang benar, di mana manusia dituntut untuk tidak merusak, melainkan mengayomi lingkungan sekitarnya. Di luar makna spiritual, praktik ini juga memiliki dimensi sosial budaya yang sangat penting. Kegiatan menghias atau membalut pohon sering kali menjadi bagian dari rangkaian ritual keagamaan atau upacara adat yang dilakukan bersama-sama. Melalui kerja sama dan kebersamaan dalam kegiatan tersebut, terjalin rasa persatuan, kebersamaan, dan solidaritas antarwarga yang semakin menguatkan ikatan sosial masyarakat. Jadi, tradisi ini bukan hanya sekadar ritual keagamaan semata, melainkan manifestasi lengkap dari kearifan lokal yang berperan besar dalam menjaga kelestarian alam sekaligus memperkokoh tatanan sosial budaya Bali.
Dalam lanskap spiritual Hinduisme yang luas, praktik memuliakan pohon sering kali menjadi hal yang menarik perhatian bagi mereka yang baru mengenalnya. Bagi umat Hindu, tradisi ini sama sekali bukan takhayul kuno atau penyembahan benda mati, melainkan ekspresi mendalam dari pandangan dunia yang saling terhubung, yang sangat menghormati kesucian alam serta kehadiran Tuhan yang ada di dalam segala ciptaan. Inti dari pandangan ini terletak pada keyakinan bahwa Tuhan atau Brahman meresapi semua aspek kehidupan dan alam semesta. Pandangan ini menyatakan bahwa sifat Tuhan tidak terbatas pada ruang pura, bangunan suci, atau berhala semata, melainkan hadir dan ada dalam setiap elemen alam, seperti pohon tertinggi di hutan. Pandangan ini dipertegas oleh kitab suci seperti Upanishad dan Bhagavad Gita yang dengan gamblang menyatakan kesatuan semua keberadaan dan kehadiran Tuhan di dalam segala hal. Isha Upanishad misalnya, mencatat kalimat suci yang bermakna “Tuhan meresapi segala sesuatu di bumi”, sebuah ajaran yang menjadi dasar utama bahwa alam bukanlah sesuatu yang terpisah dari Tuhan, melainkan merupakan wujud dan perwujudan-Nya yang nyata.
Karena pandangan itulah, pohon memegang tempat khusus dalam kosmologi Hindu, yang melambangkan kehidupan, kesuburan, kelimpahan, dan ketahanan. Pohon dianggap sebagai tempat tinggal para dewa dan roh alam, serta keberadaannya dipandang sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekologis dunia. Berbagai kitab suci Hindu telah menyebutkan kemuliaan pohon. Dalam Atharva Veda, misalnya, pohon Ashvattha atau pohon ara suci dipuja sebagai simbol kosmik yang unik, di mana akarnya mengarah ke atas dan cabangnya menjalar ke bawah, mewakili hubungan tak terputuskan antara alam Dewa dan duniawi. Demikian pula dalam Skanda Purana, diceritakan kisah tentang pohon Kalpavriksha, pohon ajaib yang mampu memenuhi segala keinginan orang-orang yang mendekatinya dengan ketulusan hati. Pemujaan terhadap pohon juga memiliki akar sejarah yang sangat tua, berkaitan erat dengan penghormatan kepada Yaksha dan Naga, yaitu roh-roh pelindung alam yang diyakini menghuni pepohonan dan menjaga lingkungan. Pemujaan terhadap pohon-pohon suci seperti beringin juga merupakan praktik umum di berbagai wilayah India dan Nusantara, di mana orang-orang memberikan doa, mengikat benang suci, atau menggantung perlengkapan upacara sebagai tanda hormat kepada roh kehidupan yang ada di dalamnya.
Pemujaan terhadap pohon dalam tradisi ini dilakukan melalui berbagai cara dan ritual yang indah. Umat memberikan persembahan berupa air, bunga, dupa, dan lampu penerangan sebagai tanda bakti dan penghormatan. Mereka juga melantunkan mantra-mantra suci, melakukan perjalanan mengelilingi tempat suci atau parikrama, serta melakukan meditasi di dekat pohon untuk merasakan kedamaian dan energi positif. Dalam banyak kasus, pohon dihias dengan kain indah, perhiasan, dan simbol-simbol keagamaan, bukan sekadar untuk mempercantik, melainkan untuk menandakan bahwa tempat atau benda tersebut adalah sesuatu yang suci, mulia, dan layak dijunjung tinggi.
Praktik-praktik ini mengandung makna yang sangat mendalam, baik dari sisi spiritual maupun ekologis. Dengan menghormati dan memuliakan alam, umat Hindu mengakui sepenuhnya bahwa hidup manusia sangat bergantung pada lingkungan di sekitarnya, dan menjaga keseimbangan ekologis adalah kewajiban suci. Lebih dari itu, tradisi ini berfungsi sebagai pengingat abadi bahwa kehadiran Tuhan ada di sekeliling kita, dalam setiap elemen kehidupan. Hal ini membantu manusia untuk membangun hubungan batin yang lebih dalam dengan alam, menumbuhkan rasa syukur yang mendalam, serta menjaga rasa hormat yang tinggi terhadap segala ciptaan Tuhan.
Bali, yang dikenal luas dengan julukan "Pulau Dewata", menyimpan kekayaan budaya dan tradisi yang sangat unik dan khas, salah satunya terlihat jelas dalam perayaan Tumpek Pengatag, yang juga sering disebut dengan nama Tumpek Uduh atau Tumpek Wariga. Perayaan istimewa ini jatuh 25 hari sebelum Hari Raya Galungan tiba, dan memiliki makna yang sangat dalam bagi seluruh umat Hindu di Bali. Pada hari suci ini, umat memberikan persembahan khusus dan penghormatan tertinggi kepada tumbuh-tumbuhan, terutama pepohonan yang ada di sekitar kita. Perayaan ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan momen penting untuk merenungkan kembali betapa besar peran alam dalam kehidupan manusia.
Tumpek Pengatag diperingati sebagai hari suci untuk memuliakan Sang Hyang Sangkara, manifestasi Tuhan sebagai dewa pencipta, pengatur, dan pemelihara segala tumbuh-tumbuhan yang ada di muka bumi. Kata "Tumpek" sendiri merujuk pada pertemuan hari dalam kalender Bali, yaitu pertemuan antara siklus tujuh hari atau Saptawara dengan siklus lima hari atau Pancawara. Sedangkan kata "Pengatag" atau "Uduh" memiliki arti tumbuh, tanaman, atau segala sesuatu yang bernyawa dan bertumbuh. Pada hari ini, umat berkumpul dan berterima kasih sepenuh hati atas segala hasil bumi, buah-buahan, kayu, dan manfaat lain yang telah diberikan alam kepada manusia. Kesadaran bahwa tumbuhan adalah sumber kehidupan yang mutlak diperlukan, karena tanpa tumbuhan manusia dan hewan tidak akan mampu bertahan hidup, menjadi dasar utama perayaan ini. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban manusia untuk menjaga, merawat, dan memuliakan tumbuhan dengan kasih sayang, sebagaimana kita memuliakan sesama makhluk hidup.
Landasan filosofi dan ajaran yang melatarbelakangi perayaan ini bersumber kuat dari kitab suci Weda dan berbagai naskah dharma. Dalam Weda diajarkan secara mendalam tentang kewajiban menjaga lingkungan dan menghormati alam, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari konsep Tri Hita Karana. Salah satu sloka suci dalam Weda yang menjadi rujukan utama memiliki makna mendalam: “Terpujilah Tuhan dalam manifestasinya sebagai bumi yang maha kuasa”. Sloka ini mengandung arti bahwa bumi beserta segala isi dan kekayaan yang ada di dalamnya, termasuk seluruh tumbuhannya, adalah manifestasi nyata dari kebesaran Tuhan itu sendiri. Hal ini diperkuat pula oleh ajaran dalam Manawa Dharmasastra, yang menegaskan bahwa manusia memiliki kewajiban moral untuk tidak merusak alam, melainkan memanfaatkan segala sumber daya alam dengan cara yang bijak, bertanggung jawab, dan tetap menjaga kelestariannya agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Pelaksanaan perayaan Tumpek Pengatag diisi dengan serangkaian kegiatan yang sarat makna dan penuh keindahan. Umat Hindu di Bali melaksanakan berbagai upacara dengan penuh ketulusan hati. Salah satu kegiatan utama adalah menghias pepohonan yang ada di sekitar rumah, kebun, maupun di lingkungan pura. Pohon-pohon tersebut dihias dengan kain berwarna-warni yang indah, janur atau daun kelapa muda yang dibentuk artistik, serta berbagai hiasan adat lainnya sebagai tanda penghormatan. Di sekitar pohon yang dihormati tersebut, umat meletakkan sesajen atau persembahan yang berisi buah-buahan segar, bunga-bungaan, berbagai jenis bubur, serta makanan tradisional Bali lainnya yang disiapkan dengan rapi dan suci. Rangkaian upacara dilanjutkan dengan memercikkan Tirta atau air suci ke seluruh bagian pohon, dari akar hingga dahan, yang dimaknai sebagai simbol penyucian, pemberkatan, dan permohonan agar pohon tersebut senantiasa subur dan bermanfaat. Pada puncak acara, para pemangku atau tokoh agama akan melantunkan mantra-mantra suci, memohon keselamatan, kesejahteraan, serta kesuburan bagi seluruh tumbuh-tumbuhan di alam semesta agar senantiasa memberi kehidupan.
Selain kegiatan seremonial dan persembahyangan, perayaan Tumpek Pengatag juga diisi dengan kegiatan nyata lainnya yang sangat bermanfaat bagi lingkungan. Umat biasanya melakukan kerja bakti membersihkan kebun dan lingkungan sekitar, memangkas ranting-ranting pohon yang sudah tua atau mengganggu, serta memberikan pupuk alami agar tanaman tumbuh semakin sehat dan kuat. Semua kegiatan ini dilakukan bukan sekadar kewajiban adat, melainkan sebagai wujud kasih sayang dan kepedulian nyata terhadap alam.
Tersimpan di balik seluruh rangkaian tradisi ini, terdapat nilai-nilai luhur yang sangat relevan dan penting bagi kehidupan manusia di masa kini maupun masa depan. Tradisi ini mengajarkan manusia untuk senantiasa memiliki rasa syukur yang mendalam atas segala nikmat yang diberikan Tuhan melalui alam semesta. Selain itu, tradisi ini juga berfungsi membangun kesadaran lingkungan yang tinggi, mengingatkan kita akan betapa pentingnya menjaga dan melestarikan alam demi kelangsungan hidup bersama. Nilai harmoni dengan alam yang ditanamkan mendorong manusia untuk hidup berdampingan secara damai dan tidak merusak lingkungan demi kepentingan sesaat. Pada akhirnya, seluruh rangkaian kebiasaan ini adalah bukti nyata dari kekayaan kearifan lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur, sebuah warisan budaya yang mengajarkan kita bahwa menjaga alam sama artinya dengan menjaga kehidupan itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar