Apakah Sebenarnya Bhutakala Itu?
Dalam ajaran Hindu Dharma dan budaya Nusantara, khususnya di Bali, istilah Bhutakala sering kita dengar. Namun, tidak semua orang memahami makna yang sebenarnya di balik kata tersebut. Banyak yang hanya mengira Bhutakala adalah sekadar hantu atau makhluk halus yang menakutkan. Padahal, konsepnya jauh lebih dalam, luas, dan memiliki makna filosofis yang sangat tinggi.
Arti Kata dan Makna Sesungguhnya
Secara etimologi, kata Bhutakala berasal dari dua kata bahasa Sanskerta, yaitu Bhuta dan Kala.
Bhuta berarti sesuatu yang sudah ada, yang telah terjadi, atau yang telah diwujudkan. Dalam konteks alam semesta, ini juga merujuk pada unsur-unsur dasar pembentuk dunia, yaitu Panca Mahabhuta (tanah, air, api, angin, dan ether/akasa).
Kala berarti waktu, kekuatan, atau energi yang mengatur segala sesuatu.
Jadi, jika digabungkan, Bhutakala dapat diartikan sebagai energi atau kekuatan yang sudah ada sejak awal masa, yang berperan dalam menjaga atau mengatur keseimbangan alam semesta. Ia bukan sekadar makhluk gaib, melainkan juga merupakan manifestasi dari energi kosmis yang ada di alam ini.
Asal-Usul dan Penciptaan
Menurut mitologi yang tertulis dalam berbagai naskah kuno, Bhutakala merupakan ciptaan dari Tuhan Yang Maha Esa, khususnya melalui manifestasi Bhatara Siwa atau Bhatari Durga.
Dalam Lontar Purwa Bhumi Kemulan dan Lontar Siwa Gama, diceritakan bahwa ketika alam semesta akan diciptakan, munculah berbagai jenis makhluk halus yang bertugas menjaga keseimbangan antara Bhuwana Agung (alam semesta) dan Bhuwana Alit (tubuh manusia). Ada pula versi yang menyebutkan bahwa mereka berasal dari bagian tubuh Dewa-Dewi atau merupakan roh-roh yang memiliki tugas khusus di alam niskala.
Sifat dan Peran Bhutakala
Sifat Bhutakala tidak selalu jahat. Mereka ibarat "polisi" atau "penjaga" alam. Jika manusia hidup sesuai dengan Dharma (kebenaran), menjaga kesucian, dan menghormati alam, maka Bhutakala akan bersifat ramah dan bahkan bisa menjadi pelindung. Namun, jika manusia banyak berbuat dosa, melanggar aturan alam, atau mengabaikan kewajiban spiritual, maka energi ini bisa berubah menjadi mengganggu, menimbulkan ketidaktenangan, penyakit, atau kesialan.
Dalam kondisi tertentu, Bhutakala juga bisa mempengaruhi pikiran manusia, membuat emosi menjadi tidak stabil, nafsu menjadi tak terkendali, dan perilaku menjadi menyimpang. Hal inilah yang dalam istilah agama disebut sebagai manusa mawak bhuta (manusia yang terpengaruh atau dimasuki energi negatif).
Hubungan dengan Kehidupan Manusia
Kehadiran Bhutakala mengajarkan kita bahwa dunia ini tidak hanya terdiri dari apa yang bisa dilihat mata (sekala), tetapi juga ada alam yang tidak kasat mata (niskala) yang saling berinteraksi. Kita tidak hidup sendirian. Oleh karena itu, umat Hindu selalu diajarkan untuk selalu berhati-hati, menjaga kesucian diri, dan melakukan upacara persembahan seperti Bhuta Yajna atau Caru.
Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menenangkan dan menyeimbangkan energi-energi tersebut, agar tidak mengganggu kehidupan dan tercipta keharmonisan di dunia ini.
Rujukan Kitab dan Naskah Suci
Meskipun tidak ada satu kitab utama yang secara khusus membahas hanya tentang Bhutakala, konsep ini tersebar dalam berbagai kitab suci dan naskah kuno, antara lain:
1. Lontar Purwa Bhumi Kemulan
Menjelaskan tentang asal-usul alam semesta dan berbagai jenis makhluk yang diciptakan, termasuk golongan Bhutakala serta tugas dan kedudukannya masing-masing.
2. Lontar Siwa Gama
Berisi ajaran tentang kosmologi dan teologi, termasuk penjelasan mengenai hubungan antara Dewa, manusia, dan makhluk halus, serta bagaimana energi Kala bekerja dalam kehidupan.
3. Manava Dharma Sastra
Dalam kitab ini disebutkan bahwa golongan makhluk seperti Bhuta, Raksasa, Yaksa, dan lainnya termasuk dalam golongan Sadya, yaitu ciptaan Tuhan yang tingkatannya berada di bawah para Dewa, namun tetap memiliki hak dan peran dalam tatanan alam semesta.
4. Berbagai Kitab Purana
Seperti Brahmanda Purana dan Shiva Purana yang banyak menceritakan tentang pewayangan dan keberadaan berbagai entitas gaib sebagai bagian dari ciptaan-Nya.
Jadi, Bhutakala adalah bagian tak terpisahkan dari ciptaan Tuhan. Memahaminya berarti kita belajar untuk lebih rendah hati, sadar akan batas kemampuan diri, dan selalu berusaha hidup selaras dengan alam semesta.
(Apakah Hindu Di Bali Menghormati Bhutakala)
Tradisi memberikan persembahan kepada Bhutakala bukan hanya ada di Bali. Di India pun mengenal tradisi seperti itu. Kalau tidak percaya, coba saksikan film India yang berjudul Mahadewa, ketika terjadi perang antara para dewa melawan para Bhuta. Bukankah boss para dewa adalah dewa Siwa juga? Jadi kesimpulannya adalah dewa dan Bhuta itu pada prinsipnya adalah sama-sama anak dari tuhan. Dan yang perlu kita ingat adalah film Mahadewa adalah produk India dan bukan produk Bali. Dengan kata lain umat Hindu di India pun mengakui bahwa Bhuta itu bukan mahluk haram. Maka dari itu, Hindu di Bali mengenal istilah Dewa Ya Bhuta Juga Ya.
Selain itu, pada hari Pengrupukan atau malam sebelum hari Nyepi ada istilah Nyomia Bhuta. Nyomia Bhuta adalah salah satu tradisi atau ritual dalam budaya Bali yang bertujuan untuk menenangkan atau menyeimbangkan energi-energi negatif yang dipercayai hadir dalam kehidupan manusia. Istilah "Bhuta" merujuk pada roh atau entitas gaib yang dianggap memiliki energi negatif atau destruktif. Dalam konteks tradisi Bali, nyomia bhuta dilakukan sebagai upacara untuk memohon kedamaian dan agar energi negatif ini tidak mengganggu kehidupan manusia.
Ritual ini biasanya melibatkan persembahan tertentu, seperti sesajen yang berisi makanan, bunga, dan benda-benda lain yang dianggap sakral, yang diletakkan di tempat-tempat tertentu yang diyakini sebagai tempat berkumpulnya roh-roh tersebut. Tujuan utama dari nyomia bhuta adalah untuk menjaga keseimbangan antara alam sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia gaib) serta menjaga keharmonisan dalam kehidupan masyarakat Bali.
Hindu di Bali juga ada tradisi membuat Ogoh-Ogoh pada saat Pengrupukan. Ogoh-Ogoh adalah simbol perwujudan Bhutakala. Oleh karena dewa dan Bhuta sama-sama anak dari tuhan, makanya Bhuta dalam Hindu tidak diusir atau dimusuhi. Melainkan diberi Labahan atau Segehan [makanan] agar mereka tidak mengganggu menurut mitologi Hindu di Bali. Memberi makanan tidak sama dengan menyembah sebagaimana pendapat agama non Hindu dan orang yang mengaku Hindu tidak boleh berpandangan seperti itu. Kita menyayangi dan memberi makan pada sapi bukan berarti kita menyembah sapi melainkan simbol menyayangi semua mahluk atau yang biasa disebut dengan Prema.
Orang yang terbiasa membaca kitab suci pasti selalu menanyakan sesuatu hal misalnya tradisi itu apakah ada dalam kitab suci atau tidak? Hal itu adalah wajar dan tidak salah. Mereka ingin tahu dan mereka sudah mulai berpikiran kritis. Maka dari itu kita sebagai orang yang intelektual harus bisa menjelaskan sesuatu kepada mereka yang belum mengerti. Karena Hindu itu bukan agama hukum dan tidak bisa dilihat dengan kacamata kuda. Belajar Hindu harus secara komprehensif dan kronologis. Contohnya, apakah Ogoh-Ogoh ada dalam kitab suci? Tentu saja tidak ada. Pasalnya dasar sastra yang menyebut Ogoh-Ogoh memanglah tidak ada. Tapi yang ada hanyalah mengusir Bhutakala. Dan mengusir Bhutakala model Hindu tidaklah sama caranya dengan model agama lain dalam mengusir setan. Kalau agama lain mengusir setan dengan cara kasar yakni dilempar. Tapi kalau cara Hindu adalah dengan menyenangkan atau memberi Segehan atau Caru. Sementara Ogoh-Ogoh adalah Bhutakala yang Personifikasi atau dibuatkan wujud.
Banyak orang-orang yang suka filsafat sering menyarankan agar tradisi mengarak ogoh-ogoh saat Pengrupukan dihilangkan. Tentu saja hal ini akan menjadi kontroversi dan menjadi polemik yang berkepanjangan. Jika Ogoh-Ogoh dihilangkan, itu artinya sama dengan menghapus Hindu karena itu adalah hiburan keagamaan. Tapi yang harus selalu ada dalam menyambut Nyepi adalah penyucian desa dan rumah dengan api. Tujuannya untuk menetralisir hal-hal negatif ataupun kekotoran. Kenapa di Bali harus ada Ogoh-Ogoh ketika menyambut Nyepi? Karena Ogoh-Ogoh di Bali adalah simbol Bhutakala atau sifat negatif manusia. Makanya Bhutakala itu tidak dihilangkan dengan cara kasar tetapi dengan cara halus. Dengan cara memberikan Caru atau Segehan yang disebut Tawur Kesanga agar Bhutakala itu senang hatinya. Ketika hatinya sudah senang maka beliau akan berubah menjadi Dewa menurut konsep Hindu Di Bali. Ketika beliau telah berubah menjadi Dewa, maka kita akan tenang melakukan Catur Brata Penyepian yaitu empat hal yang dilarang saat Nyepi diantaranya tidak boleh menyalakan api. Dan api disini bukan saja berarti api, tetapi juga berarti api amarah yang ada di dalam diri manusia dan api hawa nafsu yang disebut Sadripu. Yang kedua tidak boleh bekerja, ketiga tidak boleh bepergian, dan keempat adalah tidak boleh bersenang-senang.
Saya sangat setuju dengan adanya Ogoh-Ogoh di malam Pengerupukan atau sehari sebelum Nyepi. Asalkan Ogoh-Ogoh Itu berbentuk Bhutakala seperti Raksasa, Celuluk, Rangda dan lain-lain. Asalkan Ogoh-Ogoh itu tidak menyimpang dari tema Bhutakala. Karena jaman sekarang itu kreatifitas seseorang hampir melewati batas norma kemanusiaan yang melanggar undang-undang Pornografhy. Misalnya membuat ogoh-ogoh yang bersifat Porno dengan memperlihatkan alat kelamin pada ogoh-Ogoh. Kalau Ogoh-Ogoh sampai dibuat ada kelaminnya, itu oknum perorangan yang tidak mengerti filsafat agama, etika, dan ritual dan juga tidak memikirkan dampak negatifnya. Ogoh-Ogoh yang menampilkan hal-hal porno sangatlah bertentangan dengan undang-undang Pornografi dan juga bertentangan dengan ajaran agama.
Selain memberikan persembahan kepada Bhutakala, Hindu di Bali juga mengenal konsep memanusiakan alam, lingkungan dan Tuhan. Makanya orang-orang yang tidak paham dengan Hindu tradisi Bali, mereka pasti akan mengatakan bahwa Hindu di Bali adalah penyembah mahluk halus, bersekutu dengan setan, iblis, penyembah berhala, pohon, batu, dan lain-lain. Konsep memanusiakan alam dalam tradisi Bali misalnya pohon dihiasi dengan kain. Pohon juga diberikan Rarapan seperti kue, permen, rokok, kopi dan lain sebagainya. Bagaimanapun juga, Hindu di Bali tetap memegang teguh konsep Wyapi Wyapaka yang artinya tuhan ada di mana mana termasuk ada di pohon, batu, dan lain-lain. Meskipun Hindu di Bali dituduh penyembah berhala, tapi sesungguhnya tetap memuja Tuhan. Mengenai Hindu di Bali diperbolehkan mempersembahkan darah dan daging binatang, itu disebabkan karena Hindu di Bali menganut paham Siwa Sidanta dan Bairawa
Hindu memandang Bhutakala ataupun mahluk jahat yang lain bukan sebagai unsur kejahatan mutlak, bukan sebagai musuh, atau sesuatu yang seharusnya tak ada di antara manusia dan tuhan. Melainkan bagian dari rangkaian penciptaan yang lahir dari sang pencipta sendiri. Tanpa kehadiran mereka, tidak akan ada yang disebut sebagai kebaikan. Bagaimana kalau kekuatan jahat itu tidak ada? Mungkin alam yang kita pijak sekarang ini bukanlah bernama bumi. Disinilah tempat keberadaannya semua Tatwa termasuk Rwa Bhineda sebagai dua perbedaan yang tetap seimbang. Umat Hindu pada saat melaksanakan rangkaian upacara apapun, selalu menghadirkan atau mengundang para Bhutakala dalam upacara yadnya. Bhutakala juga diundang untuk diberi sesajen dan setelah mereka menikmatinya diharapkan untuk tidak mengganggu proses dan jalannya upacara yadnya. Satu hal lagi yang unik yaitu rasa bersahabat yang diberikan dan ditunjukkan oleh orang-orang Hindu kepada Bhutakala, dimana setiap pagi setelah kita memasak, kita memberikan persembahan rutin dalam wujud Yadnya Sesa. Semua yang kita lakukan itu ada landasan Filosofinya dari Weda sendiri. Bukan sekedar ritual yang tak beralasan dan yang bersifat sia-sia. Bukan suatu ketakutan dari orang-orang Hindu terhadap kekuatan Bhutakala apalagi untuk menduakan tuhan.
Dan mengenai Ritual Mecaru atau Tawur mempunyai makna untuk memberikan upah kepada para Bhuta supaya tidak mengganggu saat melaksanakan pemujaan. Setelah para Bhuta tersebut diberikan Lelaban atau upah melalui ritual Mecaru, maka mereka tidak akan mengganggu dalam kurun waktu tertentu sesuai besarnya upah yang diberikan. Setelah kurun waktunya habis maka para Bhuta tersebut akan mengganggu lagi sehingga perlu dilakukan ritual Mecaru lagi, begitu seterusnya. Kenapa para Bhuta perlu diberikan upah sebelum melaksanakan pemujaan? Secara umum, umat Hindu di Bali melakukan pemujaan akan mempersembahkan daging yang merupakan kesenangan para Bhuta. Jika para Bhuta tersebut tidak diberikan upah maka persembahan yang ada dagingnya tersebut akan diambil oleh para Bhuta. Berbeda halnya jika dalam melakukan pemujaan tidak mempersembahkan daging maka tidak perlu dilakukan ritual Mecaru. Karena persembahan tersebut tidak akan diganggu karena tidak ada dagingnya. Yang dimaksud Nyomya saat ritual Mecaru adalah berdamai. Artinya setelah para Bhuta diberikan upah melalui ritual Mecaru atau Tawur maka mereka tidak akan mengganggu karena sudah berdamai dalam kurun waktu tertentu. Dalam Bhagawadgita sloka 13-21 dijelaskan bahwa alam adalah penyebab segala sebab dan akibat material. Sedangkan mahluk hidup adalah penyebab berbagai penderitaan dan kenikmatan di dunia ini. Mungkin penjelasan dari sloka di atas adalah apabila Atman menempati badan sebagai para Bhuta maka ia akan berprilaku sebagai para Bhuta dan ia tidak akan bisa merubah prilakunya apalagi seperti para Dewa. Hanya dengan diberikan Lelaban atau segehan melalui ritual Mecaru. Selain itu, yang berwenang menentukan naik turunnya tingkat sang roh adalah perbuatannya sendiri dan rasa bhaktinya terhadap tuhan.
Sementara ritual Kesanga atau sehari sebelum Nyepi merupakan upacara Bhuta Yadnya untuk menghilangkan unsur-unsur kejahatan yang merusak kesejahteraan umat manusia. Tawur artinya membayar atau mengembalikan sari-sari alam yang telah digunakan manusia. Sari alam itu dikembalikan melalui upacara Tawur yang dipersembahkan kepada para Bhuta dengan tujuan agar para Bhuta tidak mengganggu manusia sehingga bisa hidup secara harmonis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar