Bab 14 Jika Atman adalah percikan Tuhan, mengapa manusia bisa memiliki pikiran jahat dan buruk?
Ini adalah pertanyaan paling mendasar dan paling sering menggelitik hati setiap umat Hindu. Kita diajarkan bahwa Atman di dalam dada kita adalah hakikat yang sama dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, murni, suci, penuh cahaya, dan tidak pernah kotor sedikit pun. Atman itulah yang menjadi nyawa, kekuatan hidup, dan kesadaran kita. Jika demikian, bagaimana mungkin dari sumber yang begitu suci dan baik itu, bisa muncul pikiran iri, dengki, marah, serakah, atau keinginan menyakiti orang lain? Apakah Tuhan itu juga ada sisi jahatnya? Atau ajaran ini ada yang salah? Jawabannya sangat jelas, terperinci, dan tertulis tegas dalam kitab suci Weda, Upanishad, Bhagavad Gita, Manawa Dharmasastra, serta lontar-lontar warisan leluhur Bali seperti Lontar Tatwa Jnana dan Lontar Kamadhatu. Semua menjelaskan bahwa kejahatan atau pikiran buruk itu bukan berasal dari Atman, bukan dari Tuhan, melainkan muncul karena ada selubung, ada kabut, ada kekeliruan pemahaman yang menutupi cahaya suci itu. Mari kita urai satu per satu, agar kita paham akar masalahnya dan tahu jalan kembali ke kebaikan.
Pertama, kita harus membedakan dengan tegas: Atman itu murni, tidak pernah berubah, tidak pernah salah, dan tidak pernah jahat. Seperti tertulis dalam Katha Upanishad Bab 2 ayat 22: "Atman tidak lahir, tidak mati, tidak berasal dari apa pun, dan tidak menjadi apa pun. Ia abadi, kekal, ada sejak dulu, dan tidak hancur saat tubuh hancur." Sifat asli Atman adalah Sat, Cit, Ananda: Benar, Sadar, dan Bahagia Sejati. Jadi, pikiran jahat itu bukan sifat asli kita, melainkan sesuatu yang menempel, sesuatu yang datang dari luar, seperti debu yang menempel di kaca jendela, membuat cahaya matahari di baliknya terlihat redup atau gelap, padahal mataharinya sendiri tetap bersinar terang. Di sinilah letak penjelasan pertama: ada apa yang menutupi cahaya itu?
Dalam Bhagavad Gita Bab 3 ayat 36–40, Arjuna bertanya persis seperti Anda: "Wahai Krishna, apa yang mendorong manusia berbuat dosa, seolah-olah terpaksa, meskipun ia tidak menginginkannya?" Dan Sang Hyang Widhi menjawab dengan sangat tegas dan menjadi kunci seluruh jawaban ini: "Adalah keinginan dan nafsu, lahir dari sifat Rajas (gairah, gerak, keinginan), yang menjadi musuh di sini. Seperti asap menutupi api, debu menutupi cermin, atau selaput menutupi mata, demikianlah pengetahuan tertutup oleh keinginan ini. Musuh ini, berwujud keinginan, tidak pernah terpuaskan, dan menutupi pengetahuan sejati manusia."
Jadi, penyebab utama pertama adalah Ajnana atau Avidya, artinya ketidaktahuan, ketidaktahuan akan jati diri sendiri, dan ketidaktahuan akan kebenaran hakiki. Dalam Manawa Dharmasastra Bab 12 ayat 3–5 dijelaskan: "Ketidaktahuan adalah akar segala dosa. Karena tidak tahu bahwa dirinya adalah Atman, bagian dari Tuhan, manusia mengira dirinya hanyalah tubuh, hanyalah perasaan, hanyalah akal budi, dan hanyalah keinginan duniawi." Karena salah mengira siapa dirinya, maka manusia mulai merasa terpisah dari Tuhan, terpisah dari sesama, dan mulai merasa: "Aku berbeda, aku harus menang, aku harus punya, aku harus lebih hebat dari orang lain." Inilah yang disebut Ahamkara, rasa "aku" yang palsu, rasa keakuan yang memisahkan diri. Dari situ lahirlah segala akar kejahatan yang disebut Sad Ripu atau enam musuh dalam diri: Kama (nafsu/keinginan), Krodha (marah), Lobha (serakah), Moha (terbuai/tertipu), Mada (sombong), dan Matsarya (iri hati). Semua pikiran buruk, jahat, dan keinginan menyakiti orang lain, semuanya bermula dari enam hal ini, dan semuanya lahir dari satu sumber: ketidaktahuan akan jati diri sejati.
Kedua, ada pengaruh Tiga Sifat Alam atau Tri Guna: Sattwa, Rajas, dan Tamas, yang dijelaskan panjang lebar dalam Bhagavad Gita Bab 14. Alam semesta dan segala isinya, termasuk tubuh, pikiran, dan perasaan kita, tersusun dari ketiga sifat ini:
- Sattwa: sifat suci, terang, damai, bijaksana, berkebenaran.
- Rajas: sifat bergerak, penuh gairah, ingin memiliki, ingin berubah, penuh keinginan dan ambisi.
- Tamas: sifat gelap, bodoh, malas, bingung, tidak peduli, dan cenderung merusak.
Atman itu sendiri berada di luar ketiga sifat ini, murni dan bebas. Tapi saat Atman masuk ke dalam alam wujud, bersatu dengan tubuh dan pikiran, maka ia seolah-olah terpengaruh oleh sifat-sifat ini, persis seperti orang naik kapal, lalu mengira dirinya yang bergerak, padahal dia diam saja di tempat. Ketika sifat Tamas dan Rajas mendominasi pikiran, maka timbullah pikiran buruk, keinginan jahat, dan perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Lontar Sundarigama menegaskan: "Bukan Atman yang jahat, tapi pikiran yang diselimuti sifat gelap dan nafsu, sehingga tidak bisa melihat kebenaran." Sama seperti air sungai yang jernih itu aslinya, tapi saat terkena lumpur, airnya jadi keruh dan kotor—airnya tidak berubah sifatnya, hanya tertutup benda asing.
Ketiga, ada faktor Karma dan Kesan Masa Lalu, yang dijelaskan dalam Upanishad Brhadaranyaka dan Lontar Tatwa Karma. Manusia hidup berulang kali, lahir dan mati dalam lingkaran Samsara. Di setiap kehidupan, kita berpikir, berkata, dan berbuat sesuatu, dan setiap itu meninggalkan jejak atau kesan yang tertanam dalam batin kita, disebut Samskara. Jika di masa lalu kita sering berpikir jahat, iri, atau serakah, maka kesan itu terbawa sampai ke kehidupan sekarang, menjadi kebiasaan, menjadi watak, dan dengan mudah muncul kembali menjadi pikiran buruk saat ada pemicu. Ada orang yang dari kecil saja sudah jahat, ada yang mudah marah, ada yang iri hati tanpa alasan jelas—itu adalah hasil dari kebiasaan batin yang sudah terbentuk lama sekali, bukan karena Atman-nya jahat. Manawa Dharmasastra Bab 4 ayat 165 menegaskan: "Pikiran buruk itu seperti benih yang sudah lama disimpan; jika tidak dibersihkan dan tidak ditanam benih baik, ia akan tumbuh lagi saat ada kesempatan."
Keempat, ada faktor Maya, kekuatan ilusi Ida Sang Hyang Widhi. Dalam Bhagavad Gita Bab 7 ayat 14, Sang Krishna bersabda: "Kekuatan-Ku, berwujud Maya, terdiri dari tiga sifat alam, sangat sulit ditembus. Namun mereka yang berserah diri kepada-Ku, dapat menyeberanginya." Maya adalah kekuatan Tuhan yang membuat segala sesuatu tampak apa adanya, membuat kita merasa benda itu nyata, orang lain itu beda, kebahagiaan ada di luar diri. Karena terperdaya oleh ilusi ini, manusia mengejar apa yang sebenarnya tidak kekal, lalu timbul kecewa, marah, iri, dan segala kejahatan lainnya. Jadi, kejahatan itu lahir dari kekeliruan melihat kenyataan, bukan dari hakikat kenyataan itu sendiri.
Sekarang kita bisa menyatukan semuanya: Atman adalah cahaya murni, percikan Tuhan, tidak pernah salah. Pikiran jahat dan buruk itu muncul karena ada selubung ketidaktahuan, ada rasa keakuan yang palsu, ada dominasi sifat gelap dan nafsu, ada kesan kebiasaan buruk masa lalu, dan ada terperdaya oleh ilusi dunia. Semua itu ada di lapisan luar, di tubuh, pikiran, dan perasaan kita, tidak pernah menyentuh atau mengotorinya Atman sedikit pun. Seperti orang yang memakai baju kotor: orangnya tetap bersih, hanya bajunya yang kotor.
Tujuan beragama, bersembahyang, dan memahami ajaran Hindu adalah persis untuk membersihkan baju itu, menyingkirkan selubung itu, menghapus ketidaktahuan itu, agar cahaya Atman kita bisa bersinar kembali terang benderang, sama suci dan sama baiknya dengan asalnya, yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Seperti tertulis indah dalam Lontar Weda Tatwa: "Manusia itu seperti lampu yang kacabunya penuh debu; debunya itu pikiran buruk, jahat, dan nafsu. Bersihkan kabunya lewat Dharma, maka cahayanya akan terang kembali, dan terlihatlah bahwa isinya adalah cahaya Tuhan sendiri."
Jadi jawabannya tegas: Penyebab pikiran buruk bukan dari Tuhan, bukan dari Atman, melainkan dari ketidaktahuan, rasa terpisah, nafsu, kebiasaan buruk, dan ilusi. Dan karena itu bukan sifat asli kita, maka semua itu bisa diubah, bisa dibersihkan, dan bisa diperbaiki kembali menjadi baik dan suci, seperti asalnya. Rahayu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar