Mengapa Harus Hidup Sungguh-Sungguh, Padahal Pada Akhirnya Semua Akan Pergi?
Kalau pada akhirnya semua akan mati, lalu mengapa kita masih harus berusaha untuk hidup dengan sungguh-sungguh? Sebenarnya, hidup ini untuk apa? Pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, bahkan terdengar berulang dan membosankan, tetapi pertanyaan ini sering kali muncul diam-diam di dalam hati ketika malam mulai sunyi, ketika beban hidup terasa berat, dan ketika kita menyadari bahwa segala sesuatu yang kita perjuangkan pada akhirnya akan kita tinggalkan.
Tidak menikah, takut kesepian di hari tua. Menikah, belum tentu bisa bersama sampai tua. Tidak bekerja keras, khawatir tidak punya cukup uang di masa tua. Terlalu bekerja keras, bisa saja justru tidak sempat menikmati masa tua yang sudah lama ditunggu. Ada jalan yang jika tidak ditempuh membuat kita menyesal seumur hidup. Namun, ketika ditempuh, justru membawa luka yang sulit sembuh. Seberapa rapi pun kita menyusun rencana, seberapa cermat pun kita menghitung hari, pada akhirnya ada hal-hal yang tetap tidak bisa kita kendalikan. Kita hanya manusia yang menjalani hidup sambil terus belajar menerima bahwa tidak semua hal akan berjalan sesuai keinginan kita. Bahwa di luar rencana kita, ada rencana yang jauh lebih besar dan lebih bijaksana, yang tidak selalu bisa kita pahami sekarang.
Hidup dipenuhi kenangan yang sulit dilupakan — ada yang manis bagaikan madu, ada yang pahit membuat hati perih. Ada urusan yang seolah tidak pernah selesai, seakan setiap hari selalu ada hal yang harus diselesaikan, yang harus dihadapi, yang harus ditanggung. Ada rasa pahit dan manis yang harus tetap kita jalani, karena itulah sifat kehidupan — tidak selalu cerah, tidak selalu hujan, selalu berubah, selalu bergerak, tidak pernah berhenti pada satu keadaan pun. Sampai pada suatu titik, ketika rambut mulai memutih dan langkah mulai melambat, kita mungkin baru menyadari bahwa hidup sebenarnya tidak membutuhkan terlalu banyak. Kita tidak butuh segala yang dulu kita kejar dengan keringat dan air mata. Yang benar-benar dibutuhkan ternyata sederhana saja.
Entah memiliki banyak uang atau sedikit, yang penting tubuh tetap sehat dan hidup berjalan dengan selamat. Entah hidup dalam kemewahan atau kesederhanaan, yang terpenting hati bisa merasa tenang dan bahagia. Bukan kemewahan yang memberi ketenangan, bukan pula harta yang menjamin kebahagiaan. Banyak orang kaya yang hidup gelisah, banyak orang sederhana yang tidur nyenyak setiap malam. Jangan sampai terlalu mengejar uang hingga tubuhmu hancur — karena harta bisa dicari lagi, tetapi tubuh yang sudah rusak tidak bisa kembali seperti semula. Jangan sampai persoalan kecil merusak ketenangan hatimu — karena banyak hal yang kita khawatirkan ternyata tidak pernah terjadi, dan yang hancur justru kedamaian yang seharusnya kita jaga.
Hiduplah dengan baik. Nikmati apa yang masih ada hari ini. Lakukan kebaikan selagi masih memiliki kesempatan. Karena hari ini adalah satu-satunya waktu yang benar-benar menjadi milikmu. Kemarin sudah berlalu dan tidak bisa diubah, besok belum tentu datang. Maka yang ada hanyalah saat ini — saat untuk berbuat baik, saat untuk mencintai, saat untuk bersyukur. Tentang masa depan, kita boleh merencanakannya, kita boleh berharap dan berdoa untuk yang terbaik. Tetapi jangan sampai terlalu sibuk mencemaskan sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi. Karena terlalu cemas tentang masa depan justru membuat kita kehilangan masa kini — satu-satunya kehidupan yang sungguh-sungguh kita miliki.
Dalam Bhagavad Gītā Bab II, Sloka 47, dikatakan: "Kau berhak atas pekerjaanmu, tetapi tidak berhak atas hasil buah pekerjaanmu. Biarlah bukan buah pekerjaan itu yang menjadi motifmu, dan janganlah engkau terikat pada ketidakberhasilan." Hidup bukanlah tentang memastikan segala sesuatu berjalan persis seperti yang kita inginkan, melainkan tentang menjalani setiap langkah dengan tulus, benar, dan penuh pengabdian, lalu menerima apa pun hasilnya dengan lapang dada. Itulah kebebasan sejati — berbuat sebaik mungkin, tetapi tidak terikat pada keberhasilan maupun kegagalan.
Dalam Manusmṛti, disebutkan bahwa manusia diberi waktu hidup bukan untuk menumpuk harta, melainkan untuk berbuat dharma — kebenaran, kebaikan, dan kasih sayang. Karena pada saat kematian datang, harta, rumah, kemewahan, dan jabatan tidak satu pun dapat kita bawa. Yang menyertai kita hanyalah perbuatan baik dan buruk yang telah kita lakukan. Itulah satu-satunya harta yang abadi.
Dan dalam Kaṭha Upaniṣad, diingatkan bahwa manusia sering kali terjebak dalam keinginan-keinginan yang berlalu-lalang, mengejar apa yang matanya lihat, hingga lupa melihat apa yang sesungguhnya abadi. Hidup ini singkat, maka jangan disia-siakan untuk hal-hal yang tidak membawa kedamaian. Bukan berarti kita tidak boleh merencanakan masa depan — rencana itu baik dan perlu. Tetapi biarkan rencana itu menjadi panduan, bukan penjara. Biarkan harapan itu menjadi semangat, bukan kecemasan.
Karena pada akhirnya, waktu akan menjawab banyak hal yang hari ini masih menjadi pertanyaan. Banyak hal yang hari ini kita khawatirkan, kelak akan terlihat kecil dan tidak berarti. Banyak pertanyaan yang membuat kita gelisah, kelak akan menemukan jawabannya sendiri seiring berjalannya waktu. Maka jalani hari ini dengan tulus. Berbuat baiklah tanpa menghitung balasannya. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh tanpa terikat pada hasilnya. Cintailah apa yang sedang kau lakukan, dan cintailah orang-orang yang ada di sisimu sekarang. Karena pada akhirnya, pertanyaan "untuk apa hidup?" itu dijawab bukan dengan kata-kata, melainkan dengan cara kita hidup — dengan setiap kebaikan yang kita berikan, setiap senyuman yang kita bagikan, dan setiap detik yang kita jalani dengan penuh kesadaran dan syukur. Itulah jawaban yang paling sejati: hidup untuk berbuat baik, untuk mencintai, dan untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar