Minggu, 16 Agustus 2026

Apa Makna Momen Sekarat dalam Ajaran Hindu?

Apa Makna Momen Sekarat dalam Ajaran Hindu?
 
Dalam tradisi Hindu, saat seseorang berada di ambang kematian, dalam proses Sekarat kondisi itu bukan sekadar akhir kehidupan biologis. Ia justru menjadi salah satu momen paling krusial dan penuh makna dalam perjalanan spiritual jiwa. Ada beberapa istilah khusus yang digunakan untuk menggambarkan masa-masa ini, masing-masing dengan makna yang mendalam.
 
Pertama adalah Marana Samaya, yang secara harfiah berarti "waktu kematian" — dari kata marana yang berarti mati dan samaya yang berarti waktu atau saat. Istilah ini merujuk pada momen-momen yang sangat penting ketika jiwa bersiap untuk meninggalkan tubuh fisik yang telah ditempati selama bertahun-tahun. Kemudian ada Antima Kala atau Antyakala, yang berarti "waktu terakhir" atau "saat terakhir". Istilah ini menekankan pada akhir dari perjalanan kehidupan saat ini, sebuah titik balik di mana perjalanan satu babak kehidupan akan berakhir dan babak baru akan segera dimulai. Ada juga Antima Sandhya, yang secara harfiah berarti "senja terakhir". Istilah ini sangat puitis dan penuh makna, menggambarkan proses transisi dari kehidupan menuju kematian, persis seperti waktu senja yang merupakan masa peralihan dari siang menuju malam — masa yang penuh keindahan sekaligus kerahasiaan, di mana satu keadaan perlahan berubah menjadi keadaan yang lain.
 
Mengapa momen kematian ini dianggap begitu penting dalam ajaran Hindu? Karena menurut pandangan Hindu, apa yang terjadi pada saat-saat terakhir seseorang di dunia ini akan menentukan ke mana jiwa itu akan pergi selanjutnya. Salah satu ajaran pokok yang disampaikan dalam Bhagavad Gita Bab 8 Ayat 6 menyatakan: "Yam yam vapi smaran bhavam tyatyante kalevaram / Tam tam evaiti kaunteya sada tad-bhava bhavitah" — artinya: "Apapun yang diingat seseorang ketika ia meninggalkan tubuhnya, itulah yang akan ia capai, wahai putra Kunti, karena ia senantiasa dipenuhi dengan pemikiran itu." Jadi pikiran, keinginan, dan emosi terakhir seseorang saat menghembuskan napas terakhir akan sangat memengaruhi kualitas dan kondisi kelahiran kembali jiwanya di kehidupan selanjutnya. Inilah sebabnya mengapa momen ini dijaga dengan begitu baik dan penuh kesungguhan.
 
Karena itulah, masa menjelang kematian dianggap sebagai waktu yang tepat untuk Vairagya — yaitu melepaskan keterikatan. Seseorang diajak untuk perlahan-lahan melepaskan segala ikatan dengan dunia: ikatan dengan keluarga, harta benda, kedudukan, dan identitas diri yang selama ini dipegang. Semua itu pada akhirnya akan tertinggal, dan jiwa akan berjalan sendiri membawa beban perbuatannya sendiri. Sebagaimana tertulis dalam Bhagavad Gita Bab 2 Ayat 22: "Vasamsi jirnani yatha vihaya navani grhnati naro 'parani / Tatha sarirani vihaya jirnany anyani samyati navani dehi" — "Sebagaimana seseorang membuang pakaian lama dan mengenakan yang baru, demikian pula jiwa meninggalkan tubuh yang lama dan memasuki tubuh yang baru."
 
Oleh karena itu, keluarga dan orang-orang terdekat memiliki peran yang sangat penting pada saat ini. Mereka akan membantu melafalkan nama-nama Tuhan, membaca kitab suci, atau melantunkan mantra-mantra suci seperti "Om Namah Shivaya" atau "Om Namo Narayanaya" tepat di telinga orang yang sedang sakaratul maut. Tujuannya adalah agar pikiran orang yang meninggal itu menjadi tenang, terarah kepada Yang Maha Tinggi, dan tidak terjebak dalam kecemasan atau kemelekatan duniawi. Jika pikiran terakhir seseorang tertuju pada Tuhan, maka diharapkan jiwanya akan mencapai tempat yang baik, atau bahkan mencapai Moksha — pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian. Hal ini sejalan dengan ajaran dalam Bhagavad Gita Bab 8 Ayat 5 yang menyatakan bahwa mereka yang mengingat Tuhan saat meninggal akan mencapai keberadaan-Nya.
 
Jadi, kondisi seseorang yang menjelang ajal dalam Hindu tidak dilihat sebagai peristiwa yang menakutkan atau sekadar berakhirnya kehidupan. Ia dipandang sebagai fase spiritual yang sangat penting, masa peralihan yang menentukan arah perjalanan jiwa selanjutnya. Maka dari itu, momen ini seharusnya dihadapi dengan ketenangan, pengabdian, dan doa, agar perjalanan jiwa menuju keabadian berjalan dengan baik dan penuh berkah. 

Tidak ada komentar: