Bab 16 Mengapa Pepohonan Diberi Persembahan dalam Tradisi Hindu Bali?
Di setiap halaman kehidupan umat Hindu Bali, pepohonan bukan sekadar penghijauan, bukan sekadar kayu yang tumbuh, dan bukan sekadar benda mati yang bisa ditebang sesuka hati. Di bawah naungan pohon beringin yang rindang, di samping pohon kelapa yang menjulang, di dekat pohon majapahit yang berbuah, sering kali kita menjumpai canang sari, banten, atau persembahan kecil yang diletakkan dengan penuh penghormatan. Banyak yang bertanya: mengapa pohon pun dipuja? Apakah Hindu menyembah pohon? Atau ada makna yang jauh lebih dalam di balik persembahan itu?
Jawabannya terletak pada pemahaman bahwa alam semesta bukanlah benda mati. Segala sesuatu yang ada di alam — mulai dari air, tanah, api, angin, hingga tumbuhan — adalah perwujudan dari kekuatan Tuhan yang menyatakan diri dalam berbagai wujud. Pepohonan adalah salah satu wujud itu. Ia memberi kehidupan, memberi naungan, memberi buah, membersihkan udara, dan menyeimbangkan alam — tanpa pernah meminta imbalan. Dalam keheningannya yang berdiri tegak, pohon mengajarkan manusia tentang ketabahan, kesabaran, kemurahan hati, dan keterhubungan dengan alam semesta. Itulah sebabnya umat Hindu di Bali memberikan persembahan kepada pepohonan — bukan karena menyembah kayu itu sendiri, melainkan karena menghormati kekuatan Tuhan yang hadir dan bekerja melalui pohon tersebut.
Dalam Bhagavad Gītā Bab X, Sloka 26, Sri Krishna bersabda: "Di antara segala pohon, Aku adalah pohon beringin (Aśvattha)." Pernyataan ini sangat bermakna. Tuhan tidak berkata "Aku disembah dalam pohon", melainkan "Aku adalah pohon beringin" — artinya keagungan, kekuatan, dan kehadiran Tuhan termanifestasi dalam pohon itu. Pohon beringin disebut Aśvattha — yang tidak pernah binasa — karena akarnya menjalar ke mana-mana, hidup berabad-abad, dan menjadi tempat berlindung bagi ribuan makhluk hidup. Ia menjadi simbol pohon kosmik yang digambarkan dalam Katha Upanishad 6.1–3: "Pohon yang akarnya di atas dan cabangnya di bawah — itulah pohon abadi, itulah Brahman, di dalamnya tinggal seluruh alam semesta."
Dalam Rigveda V.41.10, pepohonan dipuji sebagai dewi-dewi yang memberi perlindungan dan kebahagiaan: "Hai pohon-pohon, kalian adalah Dewi, kalian adalah ibu segala makhluk, semoga kalian melindungi kami dan memberi kami kebahagiaan." Weda mengajarkan bahwa tumbuhan memiliki kesadaran, memiliki jiwa, dan memiliki kekuatan Tuhan. Bukan tanpa alasan, sejak zaman kuno, orang-orang bijak memilih hidup di hutan — bukan untuk lari dari dunia, melainkan karena di antara pepohonan, kehadiran Tuhan terasa lebih dekat. Hutan adalah tempat para Ṛṣi menerima wahyu Weda, karena alam adalah kitab suci yang terbuka bagi siapa saja yang mampu membacanya.
Dalam tradisi Bali, konsep ini berkembang menjadi Bhūta Yadnya — persembahan kepada alam semesta, salah satu dari Panca Yadnya yang wajib dilaksanakan oleh setiap umat Hindu. Pepohonan adalah bagian penting dari Bhūta Yadnya, karena pohon adalah penyeimbang alam. Jika hutan dirusak, air berkurang, tanah longsor, suhu naik, dan manusia menderita. Maka menghormati pohon berarti menjaga keseimbangan alam — dan menjaga keseimbangan alam berarti menjaga kehidupan itu sendiri. Dalam Lontar Aji Janantaka, dijelaskan bahwa setiap pohon memiliki roh dan kedudukan yang berbeda-beda, bahkan ada yang dianggap sebagai titisan dewa atau leluhur. Oleh karena itu, tidak semua pohon boleh ditebang sembarangan, dan sebelum menebang pun harus ada upacara permohonan maaf.
Pohon juga menjadi simbol kehidupan yang tak pernah berhenti. Ia tumbuh dari bawah ke atas, dari akar yang tak terlihat menuju cahaya matahari — mengajarkan kita bahwa untuk tumbuh, kita harus berakar pada sesuatu yang dalam sebelum bisa menjangkau yang tinggi. Musim berganti, daun gugur, lalu tumbuh kembali — itulah samsara, siklus kelahiran dan kematian yang terus berputar. Namun batang pohon tetap berdiri, sebagaimana Ātman tetap utuh meskipun tubuh berganti. Itulah mengapa banyak pohon suci — seperti Beringin, dan Kamboja — ditanam di areal pura, atau Merajan. Bukan untuk disembah, melainkan untuk menjadi pengingat: bahwa di sekeliling kita, Tuhan hadir dalam segala wujud kehidupan.
Dalam Manusmṛti XI.143, ditegaskan bahwa menebang pohon buah atau pohon hutan tanpa alasan yang sah adalah dosa yang harus ditebus. Sebaliknya, menanam dan merawat pohon dipuji sebagai perbuatan yang menghasilkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dalam Mahābhārata, Śānti Parva 184.12, dikatakan: "Satu pohon yang tumbuh hingga berbuah, nilainya lebih baik daripada seribu putra yang tidak berbakti." Karena satu pohon memberi manfaat kepada ratusan makhluk hidup selama puluhan bahkan ratusan tahun — itu adalah kebaikan yang terus mengalir tanpa henti.
Maka ketika kita melihat canang sari di bawah pohon, janganlah berpikir orang itu menyembah kayu. Berpikirlah begini: ia sedang menghaturkan terima kasih kepada kehidupan. Ia sedang menghormati yang memberi naungan tanpa pamrih. Ia sedang menyadari bahwa dirinya tidak terpisah dari alam — bahwa udara yang ia hirup, air yang ia minum, dan makanan yang ia makan, semuanya berasal dari kesuburan bumi yang dijaga oleh pepohonan. Persembahan itu adalah pengakuan bahwa manusia bukanlah penguasa alam, melainkan bagian dari alam — dan ketika alam dihormati, alam pun menjaga manusia.
Dan inilah pesan terdalam dari persembahan kepada pepohonan: Tuhan itu Esa, tetapi Ia menyatakan diri dalam ribuan wujud — dalam matahari, dalam air, dalam tanah, dan dalam pohon yang berdiri tegak memberi naungan tanpa membeda-bedakan siapa yang berteduh di bawahnya. Menghormati pohon berarti menghormati wujud Tuhan yang paling rendah hati — yang berdiri diam, memberi terus-menerus, dan tak pernah menuntut balas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar