Bab 15 Siapa Sebenarnya yang Dipuja di Sanggah Kemulan?
Pernahkah kita bertanya ketika berdiri di depan Sanggah Kemulan: “Sebenarnya, siapa yang sedang kita puja?” Sebagian mengatakan itu tempat memuja leluhur, sebagian lagi mengatakan yang dipuja adalah Tuhan. Lalu, mana yang benar? Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satunya. Dalam tradisi Hindu Bali, Sanggah Kemulan memiliki kedudukan penting sebagai tempat persembahyangan keluarga. Di sana umat melakukan penghormatan kepada leluhur yang telah mencapai alam kedewataan, yang dalam tradisi Bali dikenal melalui konsep Dewa Hyang. Karena itu, ketika kita menghaturkan persembahan di Sanggah Kemulan, ada dimensi penghormatan kepada leluhur. Namun jangan berhenti pada pemahaman bahwa Sanggah Kemulan hanyalah tempat roh orang tua. Ada pemahaman teologis yang lebih dalam.
Dalam tradisi Hindu Bali terdapat konsep bahwa leluhur yang telah melalui proses penyucian dan upacara tertentu tidak lagi dipandang semata-mata sebagai manusia yang telah meninggal. Mereka diposisikan sebagai Dewa Hyang, sehingga hubungan manusia dengan leluhur tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga spiritual dan religius. Di sinilah konsep Pitra Ṛṇa menjadi penting. Dalam ajaran Hindu dikenal adanya kewajiban manusia terhadap leluhur. Leluhur telah memberikan tubuh, kehidupan, pendidikan, kasih sayang, dan meneruskan kehidupan kepada generasi berikutnya. Maka manusia memiliki kewajiban untuk menghormati dan membalas jasa tersebut melalui berbagai bentuk pengabdian dan yadnya.
Dalam Hindu, Tuhan Yang Maha Esa adalah Brahman, Yang Mahatinggi dan menjadi sumber segala sesuatu. Leluhur bukanlah Tuhan Yang Maha Esa dalam pengertian tertinggi. Tetapi leluhur yang telah disucikan dan diposisikan sebagai Dewa Hyang memiliki kedudukan religius dalam tradisi pemujaan keluarga. Jadi jangan mencampuradukkan antara Brahman dan leluhur, tetapi juga jangan memisahkan keduanya secara kaku seolah-olah pemujaan leluhur berada di luar kehidupan beragama. Dalam kerangka Hindu, penghormatan kepada leluhur merupakan bagian dari dharma dan yadnya.
Secara etimologis, istilah kemulan berkaitan dengan konsep mula atau asal. Ini mengandung simbolisme yang sangat dalam: kita tidak hadir begitu saja. Ada orang tua, ada leluhur, ada garis keturunan, ada kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Maka ketika seseorang berdiri di hadapan Sanggah Kemulan, sesungguhnya ia sedang diajak untuk mengingat asal-usul dirinya. Sanggah Kemulan menjadi ruang spiritual untuk menyadari: “Aku ada karena ada kehidupan yang telah mendahuluiku.”
Dan inilah yang sering terlupakan. Kita bisa saja setiap hari menghaturkan canang di Sanggah Kemulan. Tetapi kalau kita masih durhaka kepada orang tua, menyakiti keluarga, tidak menghormati leluhur, dan menjalani kehidupan tanpa dharma, maka kita perlu bertanya kembali: Sudahkah kita memahami makna persembahyangan itu? Pemujaan kepada leluhur seharusnya tidak berhenti pada ritual. Ia harus diwujudkan dalam kehidupan: berbakti kepada orang tua, menjaga nama baik keluarga, melanjutkan nilai-nilai luhur leluhur, dan menjalani kehidupan berdasarkan dharma.
Dalam Bhagavad Gītā Bab III, Sloka 11–13, hubungan manusia dengan alam, para dewa, dan yadnya dijelaskan sebagai sebuah siklus timbal balik: “Para dewa, yang diberi makan oleh yadnya, akan memberi makan kepada kalian. Saling memberi inilah yang membawa kebahagiaan sejati.” Sementara itu, konsep kewajiban terhadap leluhur dikenal dalam ajaran Tri Ṛṇa, khususnya Pitra Ṛṇa — yaitu kewajiban manusia terhadap leluhur, salah satu dari tiga utang yang harus dilunasi seumur hidupnya.
Dalam tradisi Hindu Bali, pemahaman tersebut kemudian mendapatkan bentuk ritual dan simbolik dalam berbagai praktik pemujaan keluarga, termasuk pemujaan di Sanggah Kemulan. Karena itu, Sanggah Kemulan tidak tepat jika dipahami hanya sebagai tempat atau linggih roh orang meninggal, tempat menaruh sesajen, atau tempat sembahyang karena mengikuti kebiasaan keluarga saja. Lebih tepat dipahami sebagai bagian dari ruang sakral keluarga untuk menjalankan hubungan religius dengan leluhur yang telah disucikan sekaligus menghayati dharma terhadap garis keturunan.
Setiap kali kita berdiri di depan Sanggah Kemulan, mungkin ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan: “Apakah aku hanya sedang menjalankan ritual, atau benar-benar sedang menghormati asal-usul kehidupanku?” Sebab menghormati leluhur bukan hanya dengan bunga dan dupa. Cara kita hidup juga merupakan bentuk penghormatan kepada mereka. Dan mungkin inilah pesan terdalam dari Sanggah Kemulan: mengingat dari mana kita berasal, menghormati mereka yang telah mendahului kita, dan memastikan bahwa kehidupan yang kita teruskan tetap berada di jalan dharma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar