Bab 7 Apakah Upakara Ngaben Menentukan Nasib Atman Setelah Mati?
Sering muncul keraguan dan salah paham di tengah kita: apakah pemuput upakara dan kemewahan upacara bisa mengubah nasib atman yang telah meninggal? Jawabannya tegas: TIDAK. Sang Hyang Widhi atau Brahman telah menetapkan hukum alam yang kekal bernama Rta, hukum sebab-akibat yang berlaku adil tanpa pandang bulu. Tuhan setia pada hukum-Nya sendiri; tidak ada intervensi yang bisa membelokkan keadilan ini. Setiap manusia yang lahir sudah membawa bekal Karmawasana dari kehidupan sebelumnya, dan segala perbuatan selama hidup di dunia inilah yang akan menentukan perjalanan kelahiran berikutnya atau pencapaian akhir nanti. Inilah inti dari lima keyakinan utama dalam ajaran Hindu yang disebut Pancasrada: yakin akan adanya Brahman, yakin akan adanya Atman, yakin akan adanya hukum Karmaphala, yakin akan adanya Reinkarnasi, dan yakin akan adanya Moksa.
Lalu untuk apa sebenarnya upacara pembakaran jenazah atau Ngaben dilaksanakan? Baik dikembalikan lewat pembakaran maupun dikubur, tujuannya sama saja: mengembalikan jasad yang terdiri dari unsur-unsur kasar ke dalam Pancamahabhuta atau lima unsur alam semesta—tanah, air, api, angin, dan ruan. Sementara itu, unsur hidup atau Atman akan meninggalkan wadah tubuhnya dan kembali mengalami reinkarnasi menuju kehidupan baru, membawa serta seluruh jejak perbuatan baik dan buruk yang telah diperbuatnya.
Ngaben sejatinya adalah tradisi luhur masyarakat Bali yang dilaksanakan secara turun-temurun sebagai wujud penghormatan terakhir dan kasih sayang keluarga. Namun sayangnya, sering terjadi kesalahpahaman: banyak orang lebih terpaku pada kemegahan tradisi daripada mendalami hakikat ajaran agamanya sendiri. Semakin seseorang memahami ajaran agama, semakin sederhana dan tuluslah pelaksanaan ritual tersebut. Sebaliknya, semakin dangkal pemahaman akan ajaran suci, semakin mudah seseorang dipengaruhi sehingga menganggap upacara harus dilakukan dengan biaya yang sangat besar. Tidak sedikit keluarga yang akhirnya terbebani utang hanya demi melaksanakan Ngaben, padahal hal itu tidak mengubah sedikitpun perjalanan Atman.
Ketika Atman meninggalkan raga, keadaannya digambarkan dengan pepatah kuno: “Tampaking paksi kuntul angelayang”, ibarat melihat arah terbang burung bangau di angkasa yang tak terduga. Tak satu pun makhluk—termasuk pemuput upakara—yang bisa mengetahui ke mana arah tujuan Atman itu pergi. Sebagaimana tertulis dalam ajaran suci, Atman itu tidak basah oleh air, tidak terbakar oleh api, tidak dikeringkan oleh angin. Atman tidak terikat oleh segala bentuk upakara, tidak terikat oleh mantra, maupun japa yang diucapkan. Satu-satunya yang melekat dan menentukan nasib Atman hanyalah Karmawasana yang ditanam oleh Atman itu sendiri semasa hidup. Karmawasanalah yang menentukan apakah ia akan kembali lahir ke dunia atau mencapai Moksa, semata-mata tergantung pada perbuatan yang dikerjakan saat masih bernyawa.
Meskipun demikian, upacara Ngaben tetaplah sangat perlu dan penting dilaksanakan. Tujuannya bukan untuk “membeli” surga atau mengubah takdir, melainkan untuk melaksanakan proses pengembalian jasad ke alam asalnya dengan cara yang teratur dan sakral. Selain itu, upacara ini menjadi sarana bagi keluarga yang ditinggalkan untuk mendoakan agar Atman yang telah pergi mendapatkan kelahiran yang lebih baik, atau mencapai tujuan sejati yaitu keadaan yang abadi, sukacita tanpa terhalang suka maupun duka, menuju Amor Ing Acintya. Apa yang disampaikan ini sejalan dengan ajaran Hindu yang bersumber pada Pancasrada, semoga menjadi cahaya bagi kita semua dalam memahami hakikat ritual dan keyakinan yang kita anut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar