Bab 10 Mengapa Leluhur Disebut Sebagai Tangga Menuju Tuhan?
Agama mengajarkan manusia untuk mengenal Tuhan. Itu adalah tujuan tertinggi dari segala ajaran suci — agar setiap jiwa perlahan-lahan menyadari asal-usulnya, menyadari bahwa dirinya bukanlah sekadar tubuh materi, melainkan bagian dari Yang Maha Sempurna. Namun di antara manusia dan Tuhan, ada yang sering kali kita lupakan — ada yang menjadi jembatan, ada yang menjadi jalan, ada yang menjadi tangga yang menopang langkah kita agar dapat naik menuju Sang Sumber Segala Sumber. Itulah leluhur. Leluhur bukanlah Tuhan, tetapi mereka adalah tangga menuju Tuhan. Mereka bukan tujuan akhir, tetapi mereka adalah jalan yang harus dilalui, dihormati, dan disyukuri agar kita tidak tersesat di tengah perjalanan.
Ketika seseorang meninggalkan leluhurnya, memutus hubungan dengan mereka, atau bahkan melupakan jasa dan ajaran mereka, maka sesungguhnya ia telah membuang tangga yang seharusnya menopangnya. Tanpa tangga, setinggi apa pun ia melompat, ia tidak akan pernah sampai ke tempat yang dituju. Maka dikatakan: ketika manusia meninggalkan leluhurnya, maka Tuhan baginya hanyalah khayalan semata — sesuatu yang jauh, sesuatu yang tak terjangkau, sesuatu yang hanya ada dalam kata-kata tetapi tidak pernah benar-benar dirasakan. Karena ia telah kehilangan tangga yang seharusnya membawanya ke sana.
Dalam tradisi Hindu, terkhusus di Bali, dipahami bahwa leluhur bekerja dalam dua arah — dua perjalanan yang saling melengkapi. Yang pertama adalah perjalanan turun: ketika jiwa-jiwa itu memilih untuk turun, untuk lahir kembali, untuk menjadi bagian dari silsilah keluarga kita. Itulah yang disebut Numadi — reinkarnasi, kembalinya jiwa leluhur ke dalam keturunan. Dan di sinilah letak makna Ekadasa Pitara — sebelas generasi leluhur yang menjadi jembatan hidup antara yang lahir dan yang tidak lahir, antara dunia manusia dan dunia roh. Mereka turun membawa berkah, membawa kesambetan, membawa kesinambungan kehidupan yang tidak pernah putus.
Namun perjalanan itu tidak hanya satu arah. Ketika tiba waktunya, ketika tubuh ini dipulangkan, ketika napas ini berhenti — maka jiwa itu pun harus kembali. Dan untuk kembali ke asal, untuk sampai kepada Tuhan, untuk berada di sisi-Nya atau menyatu dengan-Nya, pun dibutuhkan tangga. Dibutuhkan perantara, dibutuhkan penghormatan, dibutuhkan yadnya yang dilakukan oleh keturunannya yang masih hidup. Itulah sebabnya upacara Pitrapuja, Sradha, dan penghormatan kepada leluhur bukanlah sekadar tradisi kosong — itu adalah cara kita membantu mereka yang telah mendahului kita untuk naik kembali, untuk melangkah naik tangga yang sama yang pernah mereka turunkan. Jika keturunan melupakan mereka, maka tangga itu pun hilang — dan mereka terhenti di tengah jalan, dan kita pun tidak pernah benar-benar mengenal Tuhan sebagaimana seharusnya.
Dalam Bhagavad Gītā Bab IX, Sloka 25, dikatakan dengan sangat jelas: "Mereka yang memuja para dewa akan mencapai para dewa; mereka yang memuja leluhur akan mencapai leluhur; mereka yang memuja roh akan mencapai roh; dan mereka yang memuja-Ku akan mencapai-Ku." Sloka ini mengajarkan bahwa penghormatan kepada leluhur tidak bertentangan dengan penghormatan kepada Tuhan — justru sebaliknya, itu adalah bagian dari jalan menuju-Nya. Karena leluhur pun berasal dari Tuhan, dan kembali kepada-Nya. Menghormati mereka berarti menghormati rantai kehidupan yang langsung terhubung kepada Sang Pencipta. Memutuskan hubungan dengan mereka berarti memutuskan salah satu mata rantai yang menghubungkan kita dengan asal mula kita.
Dalam Manusmṛti III.73, ditegaskan: "Orang yang tidak pernah mempersembahkan Sradha kepada leluhurnya, makanannya tidak disukai dewa maupun leluhur. Ia hidup di dunia ini tanpa berkah, dan setelah meninggal ia tidak mencapai kebahagiaan leluhur." Bukan berarti Tuhan tidak menerima siapa pun yang tidak memuja leluhur — melainkan, hati yang tidak mampu menghormati yang terdekat, yang telah mendahuluinya, akan sangat sulit mampu mencintai dan mengenal Yang Tak Terlihat. Karena kasih sayang itu harus dimulai dari sesuatu yang nyata, sesuatu yang pernah ada di dunia ini, sebelum dapat meluas hingga ke Yang Maha Agung. Leluhur adalah latihan kita dalam mencintai dan menghormati — sebelum kita mampu melakukannya kepada Tuhan.
Dalam Lontar Manusa Yadnya, disebutkan bahwa manusia memiliki tiga utang yang harus dilunasi seumur hidupnya: utang kepada Dewa (Dewa Rna), utang kepada Leluhur (Pitri Rna), dan utang kepada Sesama (Manusa Rna). Ketiga utang ini tidak dapat dipisahkan. Seseorang boleh rajin bersembahyang kepada Tuhan, tetapi jika ia melupakan leluhurnya, maka salah satu utang terbesarnya belum lunas — dan selama itu belum lunas, maka hatinya belum utuh untuk menerima cahaya Tuhan. Itulah sebabnya dikatakan bahwa leluhur adalah tangga — karena sebelum kita naik ke atas, kita harus menyelesaikan apa yang ada di bawah, kita harus menghormati apa yang telah membentuk kita.
Maka, ketika kita memahami bahwa leluhur adalah tangga menuju Tuhan, kita tidak lagi memisahkan keduanya. Kita tidak lagi berkata: "Saya cukup beribadah kepada Tuhan, tidak perlu memuja leluhur." Sebab yang demikian itu ibarat seseorang yang ingin naik ke puncak gunung, tetapi membuang tangga yang sudah disediakan. Ia boleh melompat setinggi apa pun, tetapi ia tidak akan pernah sampai ke puncak. Sebaliknya, kita juga tidak boleh berhenti di tangga — memuja leluhur seolah-olah mereka adalah tujuan akhir. Tangga itu bukan tempat tinggal — ia adalah alat untuk naik. Leluhur pun kembali kepada Tuhan, dan mereka ingin kita pun sampai ke tempat yang sama.
Jadi, sembahyanglah kepada Tuhan dengan sepenuh hati. Tetapi di setiap sembahyang itu, ingatlah juga kepada leluhur — karena mereka adalah bagian dari rencana-Nya. Ingatlah bahwa Tuhan menciptakan kita melalui mereka, dan melalui doa serta penghormatan kita, mereka pun dibantu untuk kembali kepada-Nya. Ketika kita menyatukan penghormatan kepada Tuhan dan kasih sayang kepada leluhur, barulah tangga itu utuh — dan di sanalah jalan menuju Yang Maha Esa terbuka lebar, terang, dan penuh berkah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar