Apa Itu Catur Purusa Artha dan Mengapa Menjadi Tujuan Hidup Utama umat Hindu?
Catur Purusa Artha adalah konsep dasar, pedoman utama, dan tujuan hidup mutlak bagi setiap umat Hindu. Secara harfiah, istilah ini berasal dari bahasa Sanskerta: Catur berarti empat, Purusa berarti manusia atau jiwa, dan Artha berarti tujuan, sasaran, atau makna hidup. Jadi, Catur Purusa Artha artinya adalah Empat Tujuan Utama atau Empat Makna Hidup Manusia. Konsep ini mengajarkan bahwa hidup di dunia ini tidaklah sia-sia, tidak hanya sekadar makan, tidur, dan mati, melainkan memiliki tujuan yang jelas, bertingkat, dan mengarahkan manusia menuju kesempurnaan. Keempat tujuan ini saling berkaitan, saling melengkapi, dan harus dicapai secara seimbang agar hidup menjadi bermakna, bahagia, dan selamat. Seluruh isi ajaran agama Hindu, mulai dari Weda, Upanishad, Bhagawad Gita, hingga naskah-naskah lontar di Nusantara, sejatinya tidak lain adalah panduan agar manusia mampu mencapai keempat tujuan mulia ini.
Dasar dan sumber utama dari konsep Catur Purusa Artha tertanam kokoh dalam Kitab Weda, khususnya dalam bagian Brahmana dan Aranyaka, serta dijelaskan secara rinci dalam berbagai Upanishad. Di dalam Kitab Regweda Mandala X, Hymne 190, Sloka 1 hingga 3, tertulis bahwa penciptaan alam semesta dan manusia diatur berdasarkan tatanan kebenaran atau Rta, dan tujuan keberadaan manusia adalah untuk hidup selaras dengan tatanan tersebut guna mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan. Penjelasan yang lebih sistematis dan lengkap terdapat dalam Kitab Manawa Dharmasastra atau Manu Smrti, Bab 2, Sloka 224 hingga 225, di mana Maharsi Manu merumuskan dengan tegas bahwa ada empat hal saja yang menjadi tujuan seluruh usaha dan perbuatan manusia, dan tidak ada tujuan lain yang lebih tinggi dari keempatnya. Di sana disebutkan bahwa keempat tujuan itu adalah: Dharma, Artha, Kama, dan Moksa. Urutan ini bukan urutan acak, melainkan urutan tingkatan, di mana satu menjadi landasan bagi yang lain, dan semuanya harus dijalankan secara seimbang dan benar.
Berikut adalah penjelasan lengkap, mendalam, dan rinci mengenai masing-masing dari keempat tujuan hidup tersebut, beserta makna, isi, dan landasan kitab sucinya:
Yang pertama dan menjadi pondasi dari segalanya adalah Dharma. Dharma adalah tujuan pertama, yang paling utama, dan yang menjadi landasan bagi ketiga tujuan lainnya. Kata Dharma sendiri berarti kebenaran, kewajiban, hukum, aturan, keadilan, kebajikan, dan segala sesuatu yang sesuai dengan tatanan alam semesta. Dharma adalah jalan hidup yang benar dan lurus. Tanpa Dharma, segala sesuatu yang lain menjadi tidak berharga, salah arah, dan merusak. Dasar ajaran Dharma tertulis sangat jelas dalam Kitab Yajurweda, yang menyatakan: “Dharma adalah yang menopang alam semesta, Dharma adalah yang menopang manusia, Dharma adalah segala sesuatu yang baik dan benar.” Di dalam Kitab Bhagawad Gita Bab 4, Sloka 7–8, Sang Sri Kresna bersabda bahwa Beliau turun ke dunia semata-mata untuk menegakkan Dharma dan melenyapkan kebatilan. Artinya, keberadaan manusia di dunia ini yang paling utama adalah untuk menegakkan kebenaran, berbuat baik, menjalankan kewajibannya, dan hidup sesuai aturan luhur. Dharma mencakup segala etika, moral, agama, dan tata krama. Segala perbuatan kita, baik itu mencari harta, menikah, atau beribadah, semuanya harus didasari oleh Dharma. Jika mencari harta tapi cara salah, itu bukan Artha, melainkan dosa. Jika memiliki keinginan tapi melanggar aturan, itu bukan Kama, melainkan nafsu buruk. Dharma adalah rambu-rambu jalan; tanpa rambu, manusia akan tersesat dan celaka. Dalam Lontar Dharma Kahuripan di Bali, Dharma diartikan sebagai segala perbuatan yang selaras dengan kehendak Tuhan, kebaikan bersama, dan keseimbangan alam.
Yang kedua adalah Artha. Setelah memiliki landasan kebenaran atau Dharma, manusia berhak dan wajib mengejar Artha. Artha berarti kekayaan, harta benda, kemakmuran, kedudukan, ilmu pengetahuan, dan segala sarana yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup. Ajaran Hindu sama sekali tidak melarang manusia untuk kaya, sukses, atau makmur; justru sebaliknya, kemakmuran adalah tujuan mulia, asalkan didapat dan digunakan dengan cara yang benar. Hal ini dijelaskan dalam Kitab Manawa Dharmasastra Bab 7, Sloka 127 hingga 129, yang menyatakan bahwa manusia wajib berusaha dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup diri sendiri, keluarga, serta berbagi dengan sesama. Kemiskinan tidak dianggap sebagai kebajikan, melainkan keadaan yang harus diubah melalui usaha yang benar. Dalam Kitab Atharwaweda, banyak terdapat doa-doa memohon kelimpahan rezeki dan kemakmuran, yang membuktikan bahwa Artha adalah tujuan yang mulia. Namun, ada syarat mutlak: Artha harus berlandaskan Dharma. Artinya, kekayaan harus dicari dengan cara jujur, adil, tidak merugikan orang lain, dan berasal dari usaha yang halal. Selain itu, kekayaan tidak boleh menjadi tujuan akhir, melainkan alat atau sarana untuk berbuat kebaikan, membantu sesama, dan menjalankan ibadah. Di Bali, konsep ini tercermin dalam semboyan “Sukacita, Adil, Luhur”, yang berarti kekayaan yang disyukuri, didapat secara adil, dan digunakan untuk hal-hal luhur. Artha mengajarkan manusia untuk bekerja keras, cerdas, dan bertanggung jawab mengelola kehidupan duniawinya.
Yang ketiga adalah Kama. Kama berarti keinginan, hasrat, cinta kasih, kenikmatan hidup, kebahagiaan, dan kepuasan lahir batin. Banyak orang salah mengira bahwa agama Hindu melarang kenikmatan hidup atau menganggap keinginan itu dosa. Padahal, Kama adalah salah satu tujuan hidup yang sah, mulia, dan dianjurkan, asalkan tetap terikat pada Dharma. Dasar ajaran ini tertulis dalam Kitab Regweda, yang banyak memuji keindahan alam, kebahagiaan hidup, kasih sayang suami istri, dan kebahagiaan memiliki keturunan. Di dalam Kitab Upanishad, disebutkan bahwa Tuhan menciptakan segala keindahan dan kenikmatan di dunia ini agar manusia menikmatinya dan bersyukur, bukan untuk dijauhi atau dibenci. Kama mencakup keinginan untuk hidup bahagia, berumah tangga, memiliki anak, menikmati makanan yang lezat, melihat keindahan seni, dan segala hal yang membuat hati senang. Namun lagi-lagi, syaratnya adalah harus benar dan wajar. Keinginan tidak boleh berubah menjadi nafsu yang tidak terpuaskan, keserakahan, atau keinginan yang melanggar aturan agama dan hak orang lain. Dalam Kitab Manawa Dharmasastra Bab 2, dijelaskan bahwa Kama yang benar adalah keinginan yang dikuasai oleh akal budi dan kebenaran, bukan keinginan yang menguasai akal budi manusia. Contohnya, cinta kasih suami istri adalah Kama yang mulia, tetapi perselingkuhan adalah kejahatan. Menikmati makanan adalah hal wajar, tapi makan berlebihan hingga merusak kesehatan atau mencuri makanan adalah salah. Kama mengajarkan manusia untuk hidup bahagia, bersyukur, dan menikmati anugerah Tuhan dengan cara yang sopan dan terpuji.
Yang keempat dan merupakan tujuan tertinggi, akhir, serta paling sempurna adalah Moksa. Moksa adalah tujuan puncak dari ketiga tujuan sebelumnya. Moksa artinya kebebasan, pelepasan, kesempurnaan, keabadian, dan penyatuan kembali jiwa manusia dengan Sang Hyang Widhi Wasa. Jika tiga tujuan sebelumnya — Dharma, Artha, Kama — disebutkan sebagai tujuan hidup di dunia, maka Moksa adalah tujuan akhir jiwa manusia yang abadi. Inilah inti dari seluruh ajaran agama Hindu. Penjelasan mendalam mengenai Moksa terdapat dalam Kitab Upanishad, khususnya Katha Upanishad dan Mandukya Upanishad, yang menyatakan bahwa tujuan utama manusia lahir ke dunia adalah agar jiwanya bersih, suci, dan kembali ke asalnya, yaitu Tuhan, sehingga tidak lagi terlahir kembali ke dunia yang penuh penderitaan. Dalam Kitab Bhagawad Gita Bab 2, Sloka 72, Sri Kresna bersabda bahwa keadaan jiwa yang sudah melepas segala keinginan duniawi, bersatu dengan kebenaran, dan damai abadi itulah keadaan Moksa. Moksa bukan berarti meninggalkan dunia, menjadi pertapa, atau lari ke hutan. Moksa adalah tingkatan kesadaran jiwa: seseorang bisa saja hidup berumah tangga, kaya, dan beraktivitas sosial, namun hatinya sudah suci, tidak terikat harta, tidak sombong, dan sadar akan keesaan Tuhan, maka ia sudah mencapai jalan menuju Moksa. Moksa adalah hasil akhir dari menjalankan Dharma, memiliki Artha yang benar, dan menikmati Kama yang wajar. Di dalam Lontar Usana Bali, Moksa sering dirumuskan dengan istilah Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma, yang berarti segala perbuatan baik dan kebenaran dilakukan demi keselamatan jiwa dan kebahagiaan dunia.
Hubungan dan keseimbangan antara keempat tujuan ini sangat ditekankan. Tidak boleh ada yang lebih dominan atau ditinggalkan. Jika hanya mengejar Dharma tapi tidak mau berusaha hidup makmur atau bahagia, itu tidak benar. Jika hanya mengejar Artha dan Kama tapi melupakan Dharma dan Moksa, itu berbahaya dan menjerumuskan ke penderitaan. Keempatnya harus berjalan beriringan, seimbang, dan bertingkat. Seperti bangunan rumah: Dharma adalah pondasi, Artha adalah tiang penyangga, Kama adalah atap yang melindungi dan memberi kenyamanan, dan Moksa adalah penghuni rumah yang damai dan bahagia.
Dalam tradisi Hindu Nusantara, khususnya Bali, konsep Catur Purusa Artha ini menjadi dasar dari seluruh sistem kehidupan, adat, dan agama. Segala bentuk upacara, aturan adat, dan ajaran di Bali sejatinya dirancang agar masyarakat mampu mencapai keempat tujuan ini. Hal ini tertulis jelas dalam Lontar Asta Kosala Kosali dan Lontar Dharma Kahuripan, yang menyatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah Catur Purusa Artha, dan cara mencapainya adalah melalui pelaksanaan Panca Yadnya dan menjaga keseimbangan Tri Hita Karana. Konsep ini mengajarkan bahwa agama Hindu bukan agama yang melarang kehidupan dunia, bukan agama yang suram atau menjauhi kenikmatan, melainkan agama yang sangat realistis, seimbang, dan lengkap: mengajarkan manusia untuk hidup benar, makmur, bahagia, sekaligus mempersiapkan jiwanya menuju kesempurnaan tertinggi.
Kesimpulannya, Catur Purusa Artha adalah empat tujuan hidup utama manusia dalam ajaran Hindu: Dharma (kebenaran dan kewajiban), Artha (kemakmuran dan kekayaan yang benar), Kama (kebahagiaan dan kenikmatan yang wajar), dan Moksa (kesempurnaan dan kebebasan jiwa). Keempatnya bersumber dari Weda, dijelaskan dalam Upanishad dan Manawa Dharmasastra, serta menjadi pedoman mutlak agar manusia hidup seimbang, selamat, bahagia, dan mencapai tujuan sejati penciptaannya. Ini adalah peta jalan hidup yang lengkap, dari lahir hingga kembali ke asal, yang mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang berbudi luhur, sukses, bahagia, dan suci jiwanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar