Mengapa Agama Hindu Memiliki Banyak Dewa Padahal Menganut Tuhan Yang Maha Esa?
Salah satu hal yang paling sering ditanyakan, dibahas, dan kadang disalahpahami oleh orang luar maupun pemeluk agama Hindu sendiri adalah fakta bahwa di dalam agama Hindu terdapat banyak sekali nama, wujud, dan sebutan dewa, padahal inti ajaran yang paling mendasar dan mutlak adalah kepercayaan kepada satu Tuhan Yang Maha Esa yang bernama Sang Hyang Widhi, Brahman, atau Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sering membuat orang mengira Hindu adalah agama politeisme atau penyembah banyak dewa, padahal pemahaman itu belum lengkap dan belum menyentuh hakikat terdalam ajaran Hindu. Keberagaman nama, wujud, dan sifat dewa-dewa dalam Hindu bukanlah berarti adanya banyak penguasa atau banyak Tuhan yang berbeda-beda, melainkan merupakan bentuk pemahaman yang sangat luas, bijaksana, dan mendalam tentang kebesaran, kekuasaan, serta sifat-sifat dari Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri. Keberadaan banyak dewa ini memiliki alasan filosofis, psikologis, pendidikan, dan spiritual yang sangat agung, yang semuanya bersumber langsung dari kitab-kitab suci Weda, Upanishad, Bhagawad Gita, serta dijelaskan secara rinci dalam naskah-naskah lontar warisan leluhur di Nusantara.
Dasar dan sumber utama yang menjelaskan alasan mengapa ada banyak dewa dalam Hindu tertulis sangat jelas dan tegas di dalam Kitab Regweda, kitab suci tertua dan induk dari seluruh ajaran Hindu. Di dalam Regweda Mandala III, Hymne 6, Sloka 10, terdapat kalimat suci yang menjadi kunci jawaban utama dari pertanyaan ini, yang berbunyi: "Ekam Sat, Vipra Bahudha Vadanti", yang artinya "Yang Maha Esa itu satu, namun para orang bijak menyebutnya dengan berbagai nama". Ini adalah inti dari seluruh pemahaman ini. Kebenaran itu satu, Tuhan itu satu, namun karena kebesaran-Nya tidak terhingga, sifat-sifat-Nya sangat banyak, dan cara manusia memahami-Nya berbeda-beda, maka nama, sebutan, dan wujud yang digunakan pun menjadi beraneka ragam. Seperti halnya matahari yang satu, namun memiliki banyak sebutan: benda langit, penerang, pemberi panas, sumber kehidupan, bintang siang, dan lain-lain. Semua sebutan itu benar, semuanya merujuk pada satu benda yang sama, namun masing-masing menyebutkan satu sifat atau satu fungsi yang berbeda dari matahari itu. Begitulah dewa-dewa dalam Hindu: semuanya merujuk pada kekuasaan dan sifat-sifat dari Satu Tuhan Yang Maha Esa.
Penjelasan yang lebih mendalam dan filosofis terdapat dalam Kitab Upanishad, khususnya Brihadaranyaka Upanishad dan Chandogya Upanishad. Di sana dijelaskan bahwa Tuhan atau Brahman itu sendiri adalah sesuatu yang tanpa wujud, tanpa nama, tak terjangkau oleh panca indra, tak terbayangkan oleh akal pikiran, meliputi segala sesuatu, dan ada di segala tempat. Karena sifat-Nya yang demikian itu, mustahil bagi manusia yang memiliki keterbatasan akal dan perasaan untuk bisa memahami, mendekati, atau memuja-Nya secara langsung tanpa perantara. Maka, demi kasih sayang-Nya kepada makhluk, dan demi memudahkan manusia untuk beribadah, Tuhan menampakkan diri, mewujudkan kekuasaan-Nya, dan memanifestasikan sifat-sifat-Nya ke dalam berbagai bentuk, nama, dan sifat yang lebih mudah dipahami dan didekati oleh manusia. Diibaratkan seperti air: hakikat air itu satu, namun jika dituangkan ke dalam gelas, berbentuk gelas; dituangkan ke dalam mangkuk, berbentuk mangkuk; dituangkan ke dalam botol, berbentuk botol. Airnya tetap sama, hanya bentuk wadahnya yang berbeda agar bisa digunakan dan dimanfaatkan oleh kita. Demikianlah dewa-dewa itu: wadah-wadah suci yang berisi kekuasaan dan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam Kitab Bhagawad Gita, Sang Sri Kresna sendiri menjelaskan alasan keberagaman ini dengan sangat gamblang dan jelas, tepatnya di Bab 7, Sloka 20 hingga 23. Di sana Beliau bersabda: "Mereka yang pengetahuannya terbatas, memuja para dewa yang berbagai bentuknya, sesuai dengan sifat dan keinginan mereka sendiri. Namun sesungguhnya, segala pemujaan itu akhirnya tertuju kepada-Ku juga, walaupun mereka tidak menyadarinya. Apapun wujud atau nama yang dipuja oleh manusia, Aku menetapkan keyakinan mereka yang teguh itu. Dengan keyakinan itu, mereka memuja wujud itu, dan keinginan mereka pun terpenuhi, namun sesungguhnya semuanya itu berasal dari kekuasaan-Ku semata." Di sini ditegaskan dengan sangat tegas bahwa meskipun ada banyak dewa yang dipuja, sumber kekuatan dan pemberi hasilnya tetaplah Tuhan Yang Maha Esa. Dewa-dewa itu hanyalah nama, bentuk, atau perantara yang disesuaikan dengan kemampuan dan kecenderungan hati manusia. Ada manusia yang hatinya lembut dan suka kasih sayang, ia memuja Tuhan dalam wujud ibu yang penuh cinta (Dewi Uma atau Saraswati). Ada manusia yang hatinya tegas dan menyukai keadilan, ia memuja Tuhan dalam wujud penguasa hukum dan pelindung kebenaran (Dewa Wisnu atau Siwa). Ada manusia yang membutuhkan pengetahuan, ia memuja Tuhan dalam wujud pemberi ilmu (Dewi Saraswati). Semuanya benar, semuanya lurus, dan semuanya tertuju pada Satu Tuhan yang sama.
Selain penjelasan tentang wujud dan nama, dewa-dewa dalam Hindu juga mewakili kekuatan-kekuatan alam semesta dan prinsip-prinsip kehidupan, yang semuanya adalah perwujudan dari kekuasaan Tuhan. Hal ini dijelaskan secara rinci dalam Kitab Atharwaweda. Di sana disebutkan bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini — matahari, bulan, bumi, air, api, angin, langit, hujan, tumbuh-tumbuhan — semuanya adalah wujud kebesaran Tuhan yang bekerja memelihara kehidupan manusia. Maka, kita memberi nama kekuatan itu sebagai Dewa Surya (matahari), Dewa Bayu (angin), Dewa Varuna (air), Dewa Agni (api), Dewi Pertiwi (bumi), dan seterusnya. Kita memuja mereka bukan sebagai tuan yang terpisah, melainkan memuja kekuatan Tuhan yang bekerja melalui alam tersebut, dan kita bersyukur atas karunia kehidupan yang diberikan melalui alam itu. Ini mengajarkan manusia untuk menghormati alam, menyadari kehadiran Tuhan di segala tempat, dan hidup selaras dengan hukum alam.
Dalam tradisi Hindu Nusantara, khususnya di Bali, penjelasan mengapa ada banyak dewa ini dirumuskan dengan sangat indah, sistematis, dan mudah dimengerti dalam naskah-naskah lontar kuno, utamanya Lontar Dewa Tattwa dan Lontar Wraspati Tattwa. Di dalamnya tertulis rumusan suci: "Sang Hyang Widhi maha esa, maha kuasa, maha wujud", yang artinya "Tuhan itu satu, mahakuasa, dan mewujudkan diri dalam segala wujud". Dijelaskan di sana bahwa jika Tuhan hanya ada satu nama dan satu wujud saja, maka tidak semua manusia bisa mendekati-Nya. Ada manusia yang merasa dekat jika Tuhan digambarkan sebagai ayah yang tegas, ada yang merasa dekat jika digambarkan sebagai ibu yang mengasihi, ada yang merasa dekat jika digambarkan sebagai anak yang ceria, ada yang merasa dekat jika digambarkan sebagai raja yang agung. Maka, Tuhan memberikan berbagai wujud itu agar setiap manusia bisa menemukan jalan dan cara yang paling pas dengan hatinya untuk mendekat kepada-Nya. Diibaratkan seperti air yang ada di danau: ada yang mengambilnya dengan gayung kayu, ada dengan gayung besi, ada dengan kendi tanah liat, ada dengan ember. Wadahnya berbeda-beda, bentuknya berbeda, bahannya berbeda, namun air yang didapat dan diminum itu sama persis, sama menyegarkan, dan sama memberi kehidupan. Begitulah hubungan pemujaan dewa-dewa dengan Sang Hyang Widhi.
Selain itu, banyaknya dewa dalam Hindu juga berfungsi sebagai sarana pendidikan dan pengembangan sifat manusia. Setiap dewa memiliki sifat, karakter, dan teladan yang berbeda-beda. Dewa Brahma mengajarkan sifat kreatif, mencipta, dan memulai kebaikan. Dewa Wisnu mengajarkan sifat memelihara, melindungi, adil, dan setia. Dewa Siwa mengajarkan sifat suci, tenang, tegas, dan memurnikan. Dewi Saraswati mengajarkan sifat cinta ilmu pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan. Dewi Sri mengajarkan sifat kemakmuran, kesuburan, dan kerajinan. Dewa Ganesha mengajarkan sifat kebijaksanaan, ketenangan, dan penyingkir rintangan. Dewa Hanoman mengajarkan sifat bakti, kekuatan, dan kesetiaan. Dengan memuja, mengagumi, dan merenungi sifat-sifat dewa ini, umat diajak untuk meneladani dan menumbuhkan sifat-sifat mulia tersebut di dalam dirinya sendiri. Jadi, memuja dewa juga berarti memproses dan menyempurnakan kepribadian manusia menjadi lebih luhur dan mendekati sifat Tuhan.
Pemahaman ini juga sangat berkaitan erat dengan konsep Tri Murti, yang mengajarkan bahwa satu Tuhan memiliki tiga fungsi pokok: mencipta, memelihara, dan melebur. Dari ketiga fungsi pokok inilah kemudian lahir berbagai fungsi lain yang lebih rinci, yang kemudian diberi nama dan wujud yang berbeda-beda, namun tetap berakar pada satu sumber. Tidak ada peringkat tinggi atau rendah di antara para dewa, semuanya sama suci, sama penting, dan sama merupakan wujud dari kebesaran Sang Hyang Widhi.
Kesalahpahaman terbesar yang sering terjadi adalah menganggap dewa-dewa itu sebagai makhluk asing yang terpisah dari Tuhan, atau menganggap Hindu menyembah patung atau benda mati. Padahal, patung atau wujud dewa hanyalah simbol, sarana, dan perantara, sama seperti kita menggunakan foto orang yang kita cintai untuk mengingat orang itu. Kita tidak menyembah kertas foto itu, tapi kita mengingat dan menyayangi orang yang ada di dalam foto itu. Demikian pula dengan dewa-dewa dalam Hindu: wujudnya adalah simbol, namun yang dipuja dan dituju hatinya adalah Tuhan Yang Maha Esa yang ada di balik simbol itu.
Kesimpulannya, alasan mengapa ada banyak dewa dalam agama Hindu adalah karena Tuhan Yang Maha Esa itu Maha Besar, Maha Luas, dan memiliki sifat serta kekuasaan yang tak terhingga banyaknya. Satu Tuhan itu disebut, dipuja, dan dilihat dalam berbagai nama serta wujud yang berbeda-beda demi menyesuaikan dengan keterbatasan akal, keragaman watak, dan kebutuhan manusia, agar setiap orang bisa mendekat, memahami, dan berbakti kepada-Nya dengan cara yang paling sesuai dengan hatinya. Dewa-dewa itu bukanlah Tuhan yang terpisah, melainkan manifestasi, sifat, kekuatan, dan perwujudan dari satu kebesaran Sang Hyang Widhi Wasa. Pemahaman ini bersumber dari kebenaran suci dalam Regweda, Upanishad, Bhagawad Gita, dan dijabarkan dalam lontar-lontar Bali. Ini adalah bukti kebesaran ajaran Hindu yang sangat inklusif, bijaksana, dan mengakui keragaman sebagai kekayaan, sekaligus tetap teguh pada akar utamanya: kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang satu dan mutlak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar