Apa Makna Sebenarnya Padma, Meru, dan Bale dalam Tata Letak dan Arsitektur Pura?
Di setiap sudut pura, tempat suci umat Hindu, terdapat bangunan-bangunan dan ornamen yang bentuknya khas, indah, dan penuh detail. Tiga elemen yang paling menonjol, paling sering dijumpai, dan menjadi inti dari seluruh struktur pura adalah Padma, Meru, dan Bale. Ketiga hal ini bukan sekadar bangunan untuk berteduh, sekadar hiasan arsitektur, atau bentuk adat semata. Lebih dari itu, Padma, Meru, dan Bale adalah simbol-simbol suci yang memiliki makna filosofis mendalam, gambaran alam semesta, serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Bentuk, susunan, letak, hingga jumlah tingkatan pada bangunan-bangunan ini diatur dengan sangat rinci dan tidak dibuat sembarangan, karena setiap lekuk dan setiap bagiannya mepuyai arti khusus yang bersumber langsung dari kitab-kitab suci Weda, Purana, maupun naskah-naskah lontar arsitektur warisan leluhur. Memahami maknanya sama artinya memahami peta rohani dan gambaran kebesaran alam semesta yang dibangun manusia di bumi sebagai tempat mendekatkan diri kepada Tuhan.
Makna dan kedudukan Padma atau Bunga Teratai adalah yang paling dasar dan mendasar dari segalanya. Dalam pandangan Hindu, Padma bukan sekadar bunga yang indah, melainkan simbol kesucian, asal mula kehidupan, dan tempat bersemayamnya kekuatan Tuhan. Hampir seluruh bangunan suci di pura, mulai dari pelinggih, meru, hingga tempat sesajen, semuanya berdiri di atas landasan yang bentuknya mekar seperti kelopak bunga teratai. Penjelasan utama mengenai makna ini tertulis jelas dalam Kitab Regweda, Mandala X, Hymne 149, Sloka 1 hingga 3. Di sana diuraikan bahwa di awal penciptaan alam semesta, dari kekosongan dan air kehidupan, muncul lahirnya bunga teratai emas yang mekar indah, dan di tengah bunga itulah lahirnya Sang Pencipta atau Brahma, serta seluruh isi dunia. Padma dianggap sebagai induk dari segala ciptaan, wadah kehidupan, dan lambang kesempurnaan. Sama seperti teratai yang tumbuh dari dasar air yang keruh dan berlumpur, namun kuntumnya tumbuh ke atas, bersih, indah, dan tidak ternoda oleh lumpur tempat ia tumbuh, demikian pula manusia diharapkan hidup di dunia yang penuh cobaan dan kekotoran, namun jiwanya tetap bersih, indah, dan menjunjung kebenaran.
Makna ini diperdalam lagi dalam Kitab Bhagawad Gita, Bab 10, Sloka 21, di mana Sang Sri Kresna berfirman: “Di antara bunga-bungaan, Akulah bunga teratai”. Di sini ditegaskan bahwa Padma adalah wujud keindahan, kesucian, dan kebesaran Tuhan itu sendiri. Oleh sebab itu, setiap tempat yang disiapkan untuk memuja Dewa atau kekuatan suci, wajib dilandasi dengan bentuk Padma. Maknanya, kita menempatkan Dewa di tempat yang paling mulia, bersih, dan suci, persis seperti bunga teratai yang mulia. Dalam Kitab Padma Purana, yang seluruh isinya dikhususkan menjelaskan makna bunga teratai, disebutkan bahwa Padma memiliki empat tingkatan makna sesuai warnanya: putih melambangkan kesucian hati, merah melambangkan semangat bakti, biru melambangkan kebesaran Tuhan yang tak terduga, dan emas melambangkan keabadian. Di pura, landasan Padma yang digunakan biasanya berwarna-warni atau diukir indah, menyimbolkan bahwa tempat itu adalah pusat energi, tempat bertemunya alam kasar dan alam halus, tempat di mana Tuhan bersemayam dan menerima bakti umat.
Penjelasan teknis dan filosofis letak serta bentuk Padma dalam bangunan pura sangat rinci tertuang dalam Lontar Asta Kosala Kosali, kitab pedoman arsitektur Bali yang paling utama. Di sana dijelaskan bahwa landasan Padma tidak boleh rata, harus bertingkat dan mekar ke atas, menyimbolkan usaha manusia yang terus naik mendekati kebenaran. Jumlah kelopak atau tingkatan pun disesuaikan dengan tujuan: ganjil untuk kekuatan suci, genap untuk kekuatan alam penyeimbang. Padma adalah pondasi rohani; tanpa Padma, sebuah bangunan dianggap belum suci dan belum layak menjadi tempat pemujaan.
Berikutnya adalah Meru, bangunan berbentuk piramida bertingkat-tingkat yang menjadi ciri paling khas dari pura-pura besar di Bali. Meru adalah bangunan yang menjulang tinggi, atapnya berlapis-lapis semakin ke atas semakin kecil, dan puncaknya runcing. Makna Meru adalah gambaran dari Gunung Mahameru, gunung tertinggi dan terbesar di pusat alam semesta yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para Dewa dan pusat dari seluruh kehidupan. Dasar ajaran ini tertulis dalam Kitab Atharwaweda, Bab 10, Hymne 2, Sloka 1 hingga 8. Di sana dijelaskan bahwa Mahameru adalah poros dunia, penghubung antara bumi dan langit, antara alam manusia dan alam kahyangan. Bentuk Meru yang bertingkat-tingkat menyimbolkan tingkatan perjalanan jiwa dan tingkatan alam semesta, mulai dari alam bawah, alam manusia, hingga alam dewa yang tertinggi.
Penjelasan lebih lengkap ada di Kitab Matsya Purana dan Agni Purana. Di sana diatur jumlah tingkatan atap Meru yang tidak boleh dibuat sembarangan, melainkan harus disesuaikan dengan siapa atau kekuatan apa yang dipuja di dalamnya. Ada Meru bertingkat 3, 5, 7, 9, 11, hingga 13. Angka ganjil ini menyimbolkan kekuatan suci yang tidak terbagi. Meru 3 tingkat biasanya untuk memuja kekuatan alam atau leluhur, Meru 5 tingkat untuk Dewa penyangga arah mata angin, Meru 7 hingga 9 untuk Dewa utama seperti Wisnu atau Siwa, dan Meru 11 atau 13 tingkat khusus untuk tempat memuja Sang Hyang Widhi Wasa atau konsep Tuhan Yang Maha Esa. Semakin banyak tingkatan, berarti semakin tinggi derajat kesucian dan kebesaran kekuatan yang dipuja. Bentuknya yang makin ke atas makin kecil menyimbolkan bahwa semakin tinggi ilmu dan kebenaran, semakin sulit dicapai, semakin sederhana, dan semakin mendekati keesaan.
Dalam Lontar Usana Bali dan Lontar Asta Kosala Kosali, dijelaskan fungsi Meru sebagai pelinggih utama. Meru tidak memiliki dinding tertutup, terbuka ke segala arah. Ini bermakna bahwa kehadiran Tuhan ada di segala penjuru, tidak terbatas ruang dan waktu, dan terbuka bagi siapa saja yang datang dengan hati suci. Meru diletakkan di bagian paling dalam dan paling suci dari pura (Utama Mandala), di posisi paling tinggi tanahnya. Ini menyimbolkan bahwa Tuhan adalah yang tertinggi, yang paling utama, dan menjadi tujuan akhir segala perjalanan hidup manusia. Meru adalah simbol bahwa kita membangun gunung suci di bumi agar kita memiliki tempat untuk mendaki dan bertemu dengan Sang Pencipta.
Yang ketiga adalah Bale, yaitu bangunan-bangunan beratap yang terbuka, beralaskan lantai, dan bertiang banyak, yang tersebar di berbagai sudut halaman pura. Bale sering dianggap sekadar tempat berkumpul atau berteduh, padahal maknanya sangat luas dan penting. Dalam bahasa Sanskerta dan lontar, Bale berarti "tempat berkumpul", "tempat duduk", atau "tempat melaksanakan kewajiban". Makna utama Bale tertuang dalam Kitab Manawa Dharma Sastra, Bab 3, Sloka 75 hingga 80. Di sana dijelaskan bahwa dalam sebuah tempat suci, harus ada wadah untuk berbagai fungsi ibadah, karena ibadah bukan hanya diam bersembahyang, tapi juga belajar, berdiskusi, bekerja sama, dan melakukan persembahan. Bale dibangun untuk mewadahi segala aktivitas suci itu.
Dalam pandangan filosofi, Bale melambangkan alam dunia dan kehidupan sosial manusia. Hal ini dijelaskan dalam Lontar Dharma Kahuripan. Bale memiliki banyak tiang penyangga. Jumlah tiang dan bentuknya pun memiliki makna. Bale dengan 4 tiang menyimbolkan empat arah mata angin, empat tahap hidup, dan empat tujuan hidup. Bale dengan 8 tiang menyimbolkan delapan kekuatan alam, dan seterusnya. Keberadaan banyak tiang ini bermakna bahwa kehidupan manusia di dunia ini tegak dan berdiri kokoh karena ditopang oleh banyak hal: ditopang oleh kewajiban, ditopang oleh kebenaran, ditopang oleh kebersamaan, dan ditopang oleh hubungan dengan sesama maupun alam. Bale tidak berdinding, terbuka, dan saling berhubungan satu sama lain, menyimbolkan bahwa kehidupan sosial itu terbuka, saling terhubung, dan harus selalu berhubungan dengan keagamaan.
Jenis dan fungsi Bale pun bermacam-macam, dan maknanya tertulis rinci dalam Lontar Asta Kosala Kosali. Ada Bale Agung atau Bale Manten, biasanya berlantai lebih tinggi, yang bermakna tempat pemimpin adat atau agama berkumpul, menyimbolkan pusat pemerintahan kebenaran. Ada Bale Pesamuan atau Bale Patemon, tempat umat berkumpul, bermusyawarah, dan mendengarkan ajaran, yang bermakna bahwa agama harus menjadi wadah persatuan. Ada Bale Gili atau Bale Kambang, yang biasanya dikelilingi air, bermakna tempat pembersihan diri dan penyeimbangan energi. Ada pula Bale Tajuk atau Bale Sekapat, tempat persiapan sesajen, yang bermakna bahwa segala sesuatu yang dipersembahkan harus dipersiapkan dengan kerja keras dan ketulusan.
Posisi Bale berada di halaman tengah atau luar pura (Madya Mandala dan Nista Mandala). Ini bermakna bahwa Bale adalah perantara dan penghubung antara umat manusia dengan tempat suci yang lebih tinggi. Di Bale lah manusia belajar duduk dengan sopan, belajar bekerja sama dalam ngayah, belajar mempersiapkan diri sebelum masuk ke tempat yang paling suci. Bale mengajarkan bahwa ibadah tidak lepas dari kehidupan sosial, dan kesucian dimulai dari cara kita hidup bersama dalam masyarakat.
Secara keseluruhan, jika disatukan maknanya: Padma adalah pondasi kesucian dan asal mula kehidupan, tempat Tuhan bersemayam. Meru adalah gambaran gunung suci, poros alam semesta, dan tempat tinggal para Dewa yang menjadi tujuan ibadah. Bale adalah wadah kehidupan sosial, tempat umat berkumpul, bekerja sama, dan melaksanakan kewajiban agama. Ketiganya saling melengkapi, saling terhubung, dan menjadi satu kesatuan arsitektur yang menceritakan kisah lengkap tentang hubungan manusia, alam, dan Tuhan. Semua bentuk dan makna ini telah diatur dan ditetapkan sejak zaman dahulu dalam kitab-kitab suci Weda, Purana, dan lontar leluhur, bukan sekadar seni bangunan, melainkan kitab suci yang tertulis dalam bentuk batu, kayu, dan atap, agar setiap kali umat masuk ke pura, ia tidak hanya melihat bangunan, tetapi juga membaca pesan kebenaran yang tersimpan di dalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar