Metatah / Mepandes: Upacara Potong Gigi Secara Simbolis.
Di tengah kekayaan budaya dan spiritualitas Bali, terdapat sebuah upacara yang sangat sakral dan mendalam maknanya, yaitu Metatah, Mepandes, atau Mesangih. Upacara ini merupakan bagian dari rangkaian besar Manusa Yadnya, yaitu upacara yang dilakukan sepanjang daur kehidupan manusia. Secara fisik, upacara ini berupa pemfilan atau pemotongan gigi taring dan gigi seri bagian atas. Namun, di balik gerakan fisik itu tersimpan filosofi yang sangat luhur tentang pendewasaan diri dan penyucian jiwa.
Sumber Ajaran: Kitab Lontar yang Menjadi Landasan
Seluruh tata cara, doa, dan makna upacara ini terawat dengan sangat baik dalam berbagai naskah lontar kuno. Kitab yang dianggap paling lengkap dan rinci adalah Lontar Putru Saji.
Di dalamnya dijelaskan secara detail mengenai Tata Upakara atau perlengkapan upacara. Disebutkan dengan jelas bahwa gigi yang harus difil atau dipotong berjumlah enam buah. Enam gigi tersebut melambangkan Sad Ripu atau enam musuh utama dalam diri manusia yang harus dikendalikan, yaitu:
1. Kama (nafsu birahi)
2. Lobha (ketamakan)
3. Mada (mabuk kepayang/kesombongan)
4. Moha (kebodohan/ketidakjelian)
5. Ahasmara (iri hati/dengki)
6. Krodha (amarah)
Dengan memotong gigi tersebut, secara simbolis seseorang berjanji untuk menguasai hawa nafsunya agar tidak menjadi binatang, melainkan menjadi manusia yang beradab dan berbudaya. Lontar ini juga mencatat banten atau sesajen wajib yang harus disiapkan, seperti Pajegan, Daksina, dan Peras sebagai sarana penghubung dengan Yang Maha Kuasa.
Filosofi Mendalam dan Tujuan Upacara
Makna yang paling dalam dijelaskan dalam Lontar Yama Tattwa dan Lontar Tegesing Metatah. Dikatakan bahwa gigi yang runcing dan tajam itu melambangkan sifat-sifat binatang atau kala. Jika dibiarkan, maka saat ajal menjemput, roh manusia akan dikuasai oleh Batara Kala dan sulit mencapai keabadian.
Oleh karena itu, Metatah dilakukan untuk memuluskan, memendekkan, dan menyamakan gigi tersebut. Tujuannya agar manusia memiliki sifat yang halus, bijaksana, dan terlepas dari belenggu nafsu duniawi. Ini adalah proses "menjinakkan" ego agar jiwa menjadi suci.
Dalam Lontar Atma Prasangsa dijelaskan pula bahwa upacara ini bertujuan untuk menyucikan Atma atau jiwa, menjadikannya layak dan suci sebelum seseorang melangkah ke jenjang kehidupan berikutnya, seperti pernikahan (Pawiwahan), atau bahkan sebagai bekal saat harus kembali ke alam baka.
Tata Cara dan Pelaksana
Siapa yang boleh melaksanakan upacara ini? Bukan sembarang orang, melainkan seseorang yang sudah ahli dan memiliki pengetahuan mantra yang disebut Sangging.
Kitab Lontar Eka Pratama dan Lontar Aji Sangging menjadi panduan utama bagi para Sangging. Di sana dijelaskan syarat-syaratnya, cara duduk (Sesana), cara memegang alat (Pengerompes dan Sema), serta mantra-mantra sakral yang dibaca agar prosesi berjalan lancar, tidak sakit, dan penuh berkah.
Saat prosesi pemotongan atau pengikisan gigi berlangsung, Sangging akan membaca mantra yang tertulis dalam Lontar Dewa Tattwa, memohon perlindungan dan kekuatan suci kepada Bhatara Kumara agar energi negatif pergi dan diganti dengan kesucian.
Kapan Waktu yang Tepat?
Berdasarkan Lontar Dharma Kahuripan, upacara Metatah sebaiknya dilakukan ketika anak sudah menginjak usia dewasa atau disebut "Menek Kelih" / akil balig. Saat itulah mereka dianggap sudah mulai memahami baik dan buruk, sehingga siap secara mental untuk menerima simbolisasi pendewasaan ini.
Sementara dalam Lontar Sundarigama, dijelaskan mengenai hari-hari baik yang dianggap suci untuk melaksanakan upacara ini, seperti hari Kajeng Kliwon, hari Purnama (bulan purnama), atau hari Tilem (bulan mati), karena hari-hari tersebut dianggap memiliki energi spiritual yang tinggi.
Asal Usul Legendaris
Dari mana asal mula tradisi ini? Lontar Purwa Bhumi Kamulan menceritakan kisah yang indah. Dikatakan bahwa upacara ini berasal dari zaman kahyangan, ketika Sang Hyang Semara dan Ratih turun ke dunia mengajarkan manusia tentang cara menyempurnakan diri. Jadi, Metatah bukan sekadar adat istiadat manusia, melainkan warisan ilmu luhur dari para dewa untuk menyamai derajat kesucian mereka.
Cara Mengakses Ilmu Ini
Bagi siapa saja yang ingin mempelajari lebih dalam mengenai seluk-beluk upacara Metatah, naskah-naskah aslinya tersimpan rapi di tempat-tempat suci maupun lembaga budaya, seperti di Gedong Kirtya di Singaraja atau Pusat Dokumentasi dan Informasi Budaya Bali di Denpasar.
Kebanyakan lontar ini ditulis menggunakan Aksara Bali dan bahasa Jawa Kuno-Bali. Namun, saat ini sudah banyak tersedia versi alih aksara dan terjemahan yang memudahkan generasi sekarang untuk memahami warisan nenek moyang yang begitu berharga ini.
Upacara Metatah mengajarkan kita satu kebenaran abadi: bahwa menjadi manusia itu mudah, tetapi menjadi manusia seutuhnya yang berbudaya, menundukkan nafsu, dan berhati mulia, itulah yang harus diperjuangkan seumur hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar