Bab 22 Apakah Memberi Persembahan Kepada Bhuta Berarti Menyembah Makhluk Halus?
Di tengah keberagaman tradisi dan cara sembahyang dalam agama Hindu, sering kali muncul pertanyaan dan pandangan yang kurang tepat mengenai makna di balik pemberian persembahan kepada Bhuta dan Kala. Banyak pihak luar yang memandang tradisi ini sebagai bentuk pemujaan terhadap makhluk halus, roh jahat, atau bahkan setan, sehingga timbul anggapan keliru bahwa umat Hindu, khususnya di Bali, adalah pemuja roh atau makhluk halus. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, baik dari akar sejarah, kesusastraan, maupun landasan filosofis dan kitab suci yang dipegang, tradisi ini memiliki makna yang sangat luas, mendalam, dan penuh kearifan. Tradisi memberikan persembahan kepada Bhutakala ternyata bukanlah hal yang eksklusif hanya ada di Pulau Bali saja, melainkan memiliki akar yang sama dengan tradisi-tradisi yang ada di tanah asal agama Hindu, yaitu India. Hal ini bisa dibuktikan bahkan melalui media populer seperti serial film Mahadewa yang berasal dari India, di mana diceritakan kisah peperangan antara para Dewa melawan para Bhuta. Dalam kisah tersebut tergambar jelas bahwa pemimpin tertinggi para Dewa adalah Dewa Siwa, dan di sisi lain, para Bhuta pun juga merupakan ciptaan Tuhan yang tunduk pada kekuasaan-Nya. Dari sini muncul pemahaman mendasar yang sangat penting: Dewa dan Bhuta pada hakikatnya sama-sama merupakan anak-anak Tuhan, sama-sama berasal dari Sang Pencipta, namun memiliki sifat, watak, dan fungsi yang berbeda dalam tatanan alam semesta. Inilah yang melandasi konsep agung dalam Hindu Bali, yaitu "Dewa Ya Bhuta Juga Ya", yang berarti Dewa adalah satu sisi, Bhuta pun juga sisi lainnya, keduanya ada dan diakui keberadaannya dalam keseimbangan alam semesta.
Dalam rangkaian hari suci Nyepi, tepatnya sehari sebelumnya pada hari Pengrupukan, terdapat tradisi yang sangat dikenal yaitu Nyomia Bhuta. Ritual ini memiliki makna dan tujuan yang sangat jelas, yaitu menenangkan, mendamaikan, dan menyeimbangkan energi-energi yang dianggap negatif atau destruktif yang ada di sekitar manusia. Istilah "Bhuta" di sini merujuk pada entitas gaib atau kekuatan alam yang memiliki watak kasar, besar, dan bergerak bebas, yang jika tidak dijaga keseimbangannya dapat mengganggu ketenangan dan keharmonisan hidup manusia. Melalui upacara Nyomia Bhuta, umat Hindu berusaha menjalin hubungan baik, berdamai, dan memohon agar kekuatan-kekuatan tersebut mau menenangkan diri, tidak lagi mengganggu, dan justru ikut menjaga kedamaian. Dalam pelaksanaannya, ritual ini melibatkan persembahan berupa sesajen yang berisi makanan, bunga, dan benda-benda suci lainnya yang diletakkan di tempat-tempat tertentu yang dipercaya sebagai persimpangan atau batas wilayah, tempat sering bergeraknya kekuatan-kekuatan alam tersebut. Inti dari ritual ini adalah menjaga keseimbangan antara alam sekala, yaitu dunia nyata yang terlihat mata, dengan alam niskala, yaitu dunia gaib yang tidak terlihat namun nyata keberadaannya, sehingga keharmonisan dan ketertiban alam tetap terjaga.
Simbol yang paling ikonik dan menjadi ciri khas hari Pengrupukan adalah Ogoh-Ogoh. Patung-patung raksasa yang digarap dengan penuh seni ini adalah perwujudan atau personifikasi dari Bhutakala itu sendiri. Bagi banyak orang awam, melihat patung berbentuk mengerikan, seram, dan kasar ini mungkin dianggap sebagai sesuatu yang ditakuti atau disembah. Padahal, pemahamannya jauh dari itu. Karena keyakinan bahwa Bhuta pun adalah ciptaan Tuhan, maka dalam pandangan Hindu, makhluk ini tidak boleh dimusuhi, tidak boleh dibenci, dan tidak boleh diusir dengan cara kasar atau kekerasan seperti konsep yang ada di kepercayaan atau agama lain yang mengusir roh jahat dengan cara membuang atau melempar. Cara pandang Hindu berbeda: segala sesuatu akan lebih baik jika didekati dengan kasih sayang, kelembutan, dan persahabatan. Maka dari itu, Bhutakala diberi Labahan, Segehan, atau persembahan makanan yang layak dan disukai mereka. Tindakan memberi makanan ini sering disalahartikan sebagai menyembah, padahal maknanya sangat jauh berbeda. Hal ini diibaratkan dengan hubungan manusia dengan hewan: kita memberi makan sapi, kucing, atau hewan peliharaan bukan berarti kita menyembah hewan tersebut, melainkan wujud kasih sayang, kepedulian, dan pengakuan bahwa makhluk itu juga hidup, juga berhak mendapatkan perhatian, dan juga bagian dari ciptaan Tuhan. Nilai ini dikenal sebagai Prema, yaitu kasih sayang yang meluas kepada seluruh makhluk hidup, tanpa membeda-bedakan bentuk atau sifatnya.
Pertanyaan yang sering muncul dari mereka yang kritis dan ingin mengetahui dasar hukumnya adalah: "Apakah tradisi ini ada di dalam kitab suci atau tidak?" Pertanyaan ini wajar dan justru menunjukkan tingkat pemikiran yang mulai berkembang. Sebagai umat Hindu, kita menyadari bahwa agama ini bukanlah agama yang kaku, hanya berpegang pada teks tertulis saja, atau bisa dilihat dengan kacamata kuda. Hindu harus dipelajari secara komprehensif, utuh, dan kronologis, memahami teks, sejarah, budaya, dan filosofi di baliknya. Contohnya adalah Ogoh-Ogoh. Jika dicari dalam naskah-naskah Weda atau sastra kuno, memang tidak akan ditemukan istilah atau aturan spesifik mengenai pembuatan Ogoh-Ogoh, karena nama dan bentuknya adalah perkembangan budaya lokal. Namun, dasar filosofi dan ritualnya jelas tertulis: yaitu upacara mengendalikan atau mendamaikan Bhutakala. Ogoh-Ogoh hanyalah bentuk nyata, wujud yang dibuat manusia untuk mewakili kekuatan itu agar bisa dilihat, dihormati, dan didamaikan. Tradisi ini juga berfungsi sebagai hiburan keagamaan, seni, dan sarana pendidikan bagi masyarakat untuk mengingat sifat-sifat negatif yang harus ditaklukkan.
Namun, di balik keindahan maknanya, ada hal penting yang harus dijaga agar tradisi ini tidak kehilangan arah dan maknanya. Ogoh-Ogoh harus tetap merupakan simbol dari Bhutakala, raksasa, atau sifat-sifat buruk manusia seperti nafsu, amarah, keserakahan, dan kejahatan. Kreativitas memang boleh berkembang, tetapi tidak boleh melampaui batas norma agama, kesusilaan, dan hukum yang berlaku. Sangat disayangkan jika ada oknum yang membuat Ogoh-Ogoh dengan bentuk yang bernuansa porno, memperlihatkan alat kelamin, atau bentuk yang tidak senonoh. Hal seperti itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan ajaran agama, justru bertentangan dengan Undang-Undang Pornografi serta melanggar etika dan filsafat Hindu yang menjunjung tinggi kesucian. Hal itu semata-mata kesalahan pemahaman individu, bukan kesalahan dari ajaran atau tradisi itu sendiri.
Konsep yang lebih luas lagi yang sering tidak dipahami oleh orang luar adalah cara pandang Hindu Bali yang memanusiakan alam, lingkungan, dan segala ciptaan Tuhan. Inilah sebabnya mengapa ada tradisi menghiasi pohon dengan kain suci, memberi persembahan atau Rarapan berupa kue, rokok, kopi, dan benda-benda lainnya kepada pohon, batu, atau tempat-tempat tertentu. Orang luar sering kali langsung menyimpulkan bahwa ini adalah penyembah pohon atau batu. Padahal, di balik itu terdapat konsep agung Wyapi Wyapaka, yang berarti Tuhan Maha Ada di mana-mana, meliputi segala sesuatu, dan ada di dalam segala hal. Tuhan ada di gunung, ada di sungai, ada di pohon, ada di batu, dan ada di dalam diri manusia. Jadi, saat umat Hindu memberi penghormatan pada pohon, mereka tidak memuja kayunya, melainkan memuja kehadiran Tuhan yang bersemayam di dalam ciptaan tersebut, serta menghormati fungsi pohon sebagai penopang kehidupan alam semesta.
Hal lain yang sering menjadi bahan tuduhan adalah tradisi mempersembahkan darah atau daging hewan dalam beberapa upacara. Hal ini pun memiliki penjelasan teologis yang jelas, yaitu bahwa Hindu Bali mayoritas menganut paham Siwa Sidanta dan Bairawa, yang mengakui adanya dua sifat alam: sifat damai dan sifat dahsyat. Persembahan daging bukanlah pemujaan setan, melainkan pengakuan bahwa dalam tatanan alam ada makhluk-makhluk yang memang memiliki watak menyukai unsur-unsur tersebut, dan dengan memberi bagian yang pantas bagi mereka, terciptalah kedamaian dan keseimbangan.
Inti ajaran Hindu memandang Bhutakala atau kekuatan yang dianggap jahat itu bukan sebagai unsur kejahatan mutlak, bukan sebagai musuh yang harus dimusnahkan, atau sesuatu yang asing di antara manusia dan Tuhan. Sebaliknya, mereka adalah bagian tak terpisahkan dari rangkaian penciptaan, lahir dari Sang Pencipta yang sama. Tanpa adanya konsep kegelapan atau kekuatan yang berat, maka konsep kebaikan dan cahaya pun tidak akan terasa maknanya. Inilah prinsip Rwa Bhineda, yaitu konsep dua hal yang berbeda namun saling melengkapi dan menyeimbangkan, seperti siang dan malam, panas dan dingin, baik dan buruk. Alam semesta ini berdiri tegak di atas keseimbangan ini. Oleh karena itu, dalam setiap pelaksanaan upacara atau Yadnya, umat Hindu selalu mengundang kehadiran para Bhutakala, memberi mereka bagian persembahan yang layak, agar setelah kebutuhan mereka terpenuhi, mereka bersedia menjaga ketertiban dan tidak mengganggu jalannya ibadah manusia.
Sikap bersahabat ini terlihat sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Setiap pagi, setelah memasak, umat Hindu di Bali rutin melakukan persembahan Yadnya Sesa, yaitu menyisihkan sedikit makanan sebagai persembahan kepada alam dan makhluk-makhluk halus. Hal ini sama sekali bukan didasari rasa takut atau rasa ingin menduakan Tuhan, melainkan murni filosofi berbagi dan bersyukur. Semua ini memiliki landasan kuat yang bersumber dari Weda, bukan sekadar kebiasaan tanpa makna.
Dalam pelaksanaan ritual Mecaru atau Tawur Kesanga, maknanya sangat dalam. Ini adalah wujud membayar atau mengembalikan sari-sari alam yang telah kita ambil dan gunakan untuk kehidupan manusia. Persembahan ini diberikan kepada para Bhuta sebagai "upah" atau damai, agar mereka berdamai dan tidak mengganggu manusia dalam kurun waktu tertentu. Jika tidak diberi damai, kekuatan Bhuta yang menyukai unsur daging atau darah dikhawatirkan akan mengambil paksa apa yang ada dalam persembahan suci yang ditujukan kepada Dewa. Namun, jika persembahan kepada Dewa itu murni nabati atau tidak mengandung unsur yang disukai Bhuta, maka ritual Mecaru pun tidak wajib dilakukan. Kata Nyomya dalam konteks ini berarti berdamai, perjanjian damai yang saling menguntungkan dan menciptakan harmoni.
Hal ini sejalan dengan penjelasan dalam kitab suci Bhagawad Gita terutama pada Sloka 13-21, yang menjelaskan bahwa alam materi adalah penyebab dari segala sebab-akibat, sedangkan makhluk hidup adalah yang merasakan akibat dari perbuatannya, baik itu penderitaan maupun kenikmatan. Di dalamnya dijelaskan pula bahwa roh atau Atman yang menempati wujud Bhuta akan berprilaku sesuai dengan wadah dan sifat bawaan yang dimilikinya, dan mereka tidak bisa serta merta berubah menjadi seperti Dewa hanya dengan disuruh. Perubahan atau ketenangan mereka hanya bisa didapatkan melalui pendekatan kasih sayang dan persembahan yang pantas seperti dalam ritual Mecaru. Lebih jauh lagi, kitab suci ini mengingatkan bahwa yang berwenang menentukan naik-turunnya derajat roh atau makhluk adalah perbuatan mereka sendiri dan tingkat pengabdian atau bhakti mereka kepada Tuhan, bukan karena dikutuk atau ditakdirkan selamanya.
Terakhir, rangkaian upacara Pengrupukan dan Tawur Kesanga ini masuk ke dalam kategori Bhuta Yadnya, yaitu pengorbanan atau persembahan yang ditujukan untuk menyucihayakan dan mendamaikan unsur-unsur alam yang kasar. Tujuannya sangat mulia: menghilangkan unsur kejahatan, kerusakan, dan ketidaktertiban agar manusia bisa hidup sejahtera, damai, dan siap melaksanakan Catur Brata Penyepian atau empat pantangan suci saat hari Nyepi. Empat pantangan itu adalah tidak menyalakan api, yang maknanya juga memadamkan api amarah dan hawa nafsu dalam diri; tidak bekerja; tidak bepergian; dan tidak bersenang-senang. Semua ini dilakukan agar manusia benar-benar hening, tenang, dan bersatu kembali dengan Tuhan.
Jadi, kembali pada pertanyaan awal: apakah memberi persembahan kepada Bhuta berarti menyembah makhluk halus? Jawabannya jelas tidak. Hal itu adalah wujud pengakuan atas kebesaran Tuhan yang menciptakan segala sesuatu, wujud kearifan menjaga keseimbangan alam, wujud kasih sayang kepada seluruh makhluk ciptaan, dan wujud pemahaman mendalam bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini memiliki tempat, fungsi, dan maknanya masing-masing di hadapan Sang Pencipta. Semua ajaran ini bersumber dari Weda, Bhagawad Gita, dan sastra suci lainnya yang mengajarkan kebijaksanaan, keseimbangan, dan kasih sayang tanpa batas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar