Bab 17 Apakah Tuhan Pernah Salah Menentukan Nasib Manusia?
Pernahkah kita bertanya di tengah kesulitan yang berat: jika Tuhan itu Maha Baik dan Maha Bijaksana, mengapa Ia menentukan nasib yang terasa begitu berat untuk kita pikul? Mengapa ada orang yang lahir dalam kemiskinan, ada yang menderita sakit sejak kecil, ada yang kehilangan orang yang dicintai di saat kehidupan baru saja dimulai? Pertanyaan ini muncul bukan karena kita tidak percaya kepada Tuhan, melainkan karena kita tidak memahami bagaimana hukum Tuhan itu bekerja. Kita sering mengira nasib adalah keputusan tunggal Tuhan yang ditetapkan tanpa sebab, tanpa alasan, tanpa kaitan dengan perbuatan kita sendiri. Padahal dalam ajaran Hindu, nasib bukanlah seperti itu. Nasib bukanlah vonis sembarangan yang dijatuhkan oleh penguasa di atas singgasana. Nasib adalah buah dari benih yang kita tanam sendiri — baik di kehidupan ini maupun di kehidupan-kehidupan sebelumnya. Dan di sinilah letak keadilan Tuhan: Ia tidak pernah salah menentukan nasib, karena Ia hanya membiarkan setiap perbuatan menghasilkan buahnya sendiri.
Dalam Bhagavad Gītā Bab IX, Sloka 25, Sri Krishna bersabda dengan sangat jelas: "Mereka yang memuja dewa-dewa akan mencapai dewa-dewa; mereka yang memuja leluhur akan mencapai leluhur; mereka yang memuja roh-roh akan mencapai roh-roh; dan mereka yang memuja-Ku akan mencapai-Ku sendiri." Sloka ini mengajarkan bahwa setiap jalan yang kita pilih, setiap tindakan yang kita lakukan, setiap keinginan yang kita pelihara, semuanya menentukan ke mana kita akan pergi dan apa yang akan kita alami. Tuhan tidak memaksakan jalan kepada siapa pun; Ia hanya memberikan kebebasan untuk memilih, dan Ia membiarkan pilihan itu membawa kita ke arah yang sesuai dengan sifatnya. Jika kita menabur kebaikan, kita memanen kebaikan. Jika kita menabur kejahatan, kita memanen kesengsaraan. Bukan Tuhan yang menghukum, melainkan sifat alam semesta sendiri yang bekerja dengan adil. Dalam Manusmṛti VII.59, ditegaskan: "Hukum alam tidak pernah salah; yang salah adalah pemahaman manusia yang mengira Tuhan menimpakan penderitaan tanpa alasan."
Banyak orang mengira nasib berarti tidak ada pilihan. Padahal dalam Hindu, nasib dibagi menjadi dua bagian: Daiva — yaitu apa yang sudah ditentukan sebagai akibat dari perbuatan masa lalu, dan Puruṣakāra — yaitu usaha dan pilihan yang kita buat di masa kini. Daiva adalah kondisi awal yang kita temui saat lahir, tetapi Puruṣakāra adalah tangan yang mengemudikan perahu ke mana pun kita mau. Dalam Mahābhārata, Śānti Parva 329.15, dikatakan: "nasib hanya membantu mereka yang berusaha. Bagi yang malas, nasib pun tidak berdaya." Ini berarti Tuhan tidak menetapkan akhir cerita seseorang sejak lahir; Ia hanya memberikan panggung, naskah awal, dan kebebasan untuk berakting. Bagaimana cerita itu berakhir, tergantung pada bagaimana kita memainkannya. Jika nasib itu mutlak dan tidak bisa diubah, lalu untuk apa kita berbuat baik, untuk apa kita berdoa, untuk apa kita berusaha? Itu semua menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah salah menentukan nasib — Ia justru memberikan keadilan penuh dengan membiarkan kita berkuasa atas hidup kita sendiri.
Kadang kita melihat orang jahat hidup bahagia dan orang baik menderita, lalu kita berkata: "Tuhan tidak adil, Tuhan salah menentukan nasib." Padahal kita hanya melihat satu halaman buku yang sangat tebal. Kita tidak melihat apa yang dilakukan orang itu di kehidupan sebelumnya, apa yang sedang ia tanam sekarang, dan apa yang akan ia petik di masa depan. Dalam Bhagavad Gītā Bab IV, Sloka 7–8, Tuhan bersabda bahwa Ia muncul di setiap zaman untuk menegakkan dharma, bukan untuk menghukum sembarangan. Keadilan-Nya tidak selalu datang seketika, tetapi tidak pernah luput satu pun. Seperti benih yang ditanam tidak langsung berbuah, demikian pula buah perbuatan — baik maupun buruk — memerlukan waktu yang tepat untuk tumbuh. Dalam Upanishad, Brihadaranyaka 4.4.5, disebutkan: "Sesuai dengan keinginan seseorang, demikianlah kehendaknya; sesuai dengan kehendaknya, demikianlah perbuatannya; dan sesuai dengan perbuatannya, demikianlah hasil yang ia peroleh." Jadi bukan Tuhan yang salah menentukan, melainkan kita yang tidak melihat rantai sebab-akibat yang panjang itu.
Lalu, di mana letak peran Tuhan dalam menentukan nasib manusia? Tuhan bukanlah hakim yang duduk di atas dan menjatuhkan hukuman. Tuhan adalah pengatur hukum alam semesta. Seperti hukum gravitasi — jika kamu jatuh, bukan Tuhan yang menjatuhkanmu, melainkan kamu yang melanggar hukum keseimbangan. Demikian pula dengan hukum karma. Tuhan menetapkan hukumnya, tetapi Ia tidak ikut campur secara sewenang-wenang. Dalam Bhagavad Gītā Bab XIII, Sloka 21, dijelaskan bahwa semua makhluk lahir dan mengalami dunia karena perpaduan antara Prakṛti (alam semesta) dan Puruṣa (jiwa), serta kualitas perbuatan yang mereka bawa. Tuhan berada di balik semua itu sebagai pengawas yang adil, bukan sebagai penguasa yang sewenang-wenang. Ia tidak membenci siapa pun, tidak memihak siapa pun, dan tidak pernah salah. Seperti matahari yang bersinar sama kepada orang baik dan orang jahat, demikian pula keadilan Tuhan berlaku sama untuk semua makhluk.
Jika demikian, mengapa kita perlu berdoa dan sembahyang? Karena doa dan yadnya bukan untuk memohon agar Tuhan mengubah nasib secara ajaib, melainkan untuk membersihkan hati, memperbaiki pikiran, dan mengubah arah perbuatan kita. Ketika kita berubah, masa depan pun berubah — karena masa depan itu dibentuk oleh pikiran dan perbuatan kita saat ini. Dalam Lontar Sarasamuccaya, dikatakan: "nasib itu seperti tanah yang sama; yang menentukan hasilnya bukan tanah itu, melainkan benih yang ditanam dan cara merawatnya." Tuhan memberikan tanah yang baik kepada semua orang, tetapi tergantung kepada kita apa yang kita tanam di sana. Apakah kita menanam benih kebaikan atau benih kejahatan — itulah yang akan kita panen.
Maka, Tuhan tidak pernah salah menentukan nasib. Yang sering salah adalah kita yang menilai nasib hanya dari apa yang terlihat di permukaan, hanya dalam satu masa kehidupan, hanya dari kesulitan yang sedang kita alami saat ini. Tuhan itu Maha Adil, Maha Bijaksana, dan Maha Pengasih. Nasib yang Ia tetapkan bukanlah hukuman, melainkan kesempatan — kesempatan untuk memperbaiki diri, untuk melunasi utang-utang perbuatan masa lalu, dan untuk tumbuh menjadi jiwa yang lebih baik. Setiap kesulitan adalah guru, setiap cobaan adalah pengasah hati. Dan ketika kita mampu melewatinya dengan sabar, ikhlas, dan berusaha berbuat baik, maka kita sedang mengubah nasib itu sendiri menjadi sesuatu yang indah.
Jadi, janganlah menyalahkan Tuhan atas nasib yang terasa berat. Sebaliknya, tanyakanlah kepada diri sendiri: apa yang sedang aku pelajari dari semua ini? Apa yang perlu aku ubah dari caraku berpikir dan bertindak? Karena ketika kita berubah, nasib pun ikut berubah. Itulah keadilan Tuhan yang sesungguhnya — Ia tidak menentukan akhir cerita kita, tetapi Ia memberikan kita kebebasan dan kekuatan untuk menulis cerita itu sendiri.